Sirnas bulu tangkis

Pemain Unggulan Gagal Tembus Final

Kompas.com - 24/09/2011, 03:28 WIB

Pangkal Pinang, Kompas - Tiga dari empat unggulan tunggal dewasa gagal menembus final Djarum Sirkuit Nasional Regional VI Sumatera di GOR Kacang Pedang, Pangkal Pinang. Satu-satunya unggulan yang menembus final adalah Fauzi Adnan dari PB Jaya Raya Suryanaga.

Fauzi, unggulan kedua tunggal dewasa putra, mengalahkan pemain dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan DKI Jakarta, Hermansyah, 21-18, 21-14. Pada gim pertama, kedua pemain saling kejar angka hingga poin kedelapan. Setelah itu, Fauzi memimpin sebentar lalu dikejar lagi oleh Hermansyah. Namun, akhirnya Hermansyah harus memberikan kemenangan kepada Fauzi.

Pada awal gim kedua, Hermansyah mencoba melawan. Namun, Fauzi kembali mengalahkan pemain non-unggulan itu dengan selisih skor lebih jauh. Berkali-kali Fauzi memimpin perolehan poin sampai akhirnya permainan berakhir dengan kekalahan Hermansyah.

Sementara pada partai lain, unggulan pertama, Sanatria dari PB SGS PLN Bandung, harus menyerah dari Bandar Pamungkas yang mewakili PB Djarum. Bandar memaksa Sanatria mengakhiri permainan dengan skor 21-17, 21-14.

Sebagai pemain unggulan, Sanatria awalnya mencoba menekan Bandar. Namun, dengan tenang Bandar mengumpulkan poin demi poin dan terus meninggalkan Sanatria. Bahkan, pada awal gim kedua, Sanatria harus menunggu Bandar mengumpulkan empat poin sebelum mendapatkan poin pertamanya.

Namun, Bandar berkali-kali memaksa Sanatria mengaku kalah. Kombinasi permainan net dan pukulan panjang Bandar membuat Sanatria tidak berkutik. Datang sebagai pemain unggulan pertama, Sanatria akhirnya harus menyerahkan kursi final kepada Bandar.

Di sektor putri, unggulan pertama Rosaria dan unggulan kedua Ganis Nurrahmadani sama-sama gagal menembus final. Rosaria ditaklukkan Ana Rovita, rekan satu klub Rosaria di PB Djarum Kudus, dengan skor telak, 12-21, 10-21. ”Kondisi saya menurun karena di Pangkal Pinang terlalu panas. Agak susah bermain di suhu sepanas ini,” ujar Rosaria seusai pertandingan.

Dalam dua gim, Rosaria gagal menunjukkan kelas sebagai pemain unggulan pertama. Pada gim pertama, ia berkali-kali tertinggal dalam pengumpulan poin. Selisih poin yang lebih dari separuh membuat Rosaria susah mengatasi ketertinggalan dari Ana. Pada gim kedua, Rosaria semakin sulit mendapatkan poin. Ia akhirnya harus merelakan Ana menang dua gim langsung dengan skor telak.

Pada pertandingan lain, Ganis yang menembus semifinal dengan susah payah harus mengakui keunggulan Febby Angguni. Sebelumnya, pada babak delapan besar, Ganis dipaksa bermain tiga gim oleh Natalia Deiske.

Namun, perjuangan keras Ganis menembus semifinal dihentikan oleh Febby. Pemain PB Djarum Kudus itu memaksa dia menyerah dengan skor akhir 21-13, 21-19. Kekalahan pada gim pertama membuat Ganis mencoba melawan pada awal gim kedua. Perlawanan itu membuat gim kedua berlangsung lebih ketat.

Kedua pemain saling kejar dalam perolehan poin. Mereka tidak bisa mengumpulkan lebih dari dua poin sebelum dikejar lawan. Usaha Ganis terhenti saat baru mengumpulkan 19 poin. Sementara Febby sukses mengumpulkan 21 poin dan menutup permainan dengan kemenangan tipis. (RAZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau