Palestina Inginkan Perbatasan Tahun 1967

Kompas.com - 24/09/2011, 04:06 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Jumat (23/9/2011), meminta PBB untuk menerima negara Palestina sebagai anggota penuh berdasarkan perbatasan tahun 1967, sebelum Perang Enam Hari dengan Israel, dengan Jerusalem atau Al-Quds Al-Sharif sebagai ibu kota.

Abbas menyerahkan permintaan itu dalam sebuah berkas yang berhiaskan lambang elang Palestina di depan ruang pertemuan lantai tiga Sekjen PBB Ban Ki-moon. Sekjen PBB itu segera membuka berkas tersebut untuk memeriksanya.

Abbas melambaikan salinan permintaan itu di hadapan anggota Majelis Umum PBB ketika ia mendapat tepuk tangan panjang. Abbas mengatakan, ia telah mengajukan "aplikasi bagi keanggotaan Palestina berdasarkan perbatasan pada 4 Juni 1967" dengan Jerusalem sebagai ibu kotanya.

Dia juga meminta Sekjen PBB "untuk mempercepat pengiriman permintaan kami kepada Dewan Keamanan dan menyerukan kepada para anggota Dewan Keamanan untuk mendukung keanggotaan penuh kami." Namun, AS—yang punya hak veto—telah mengancam akan menggagalkan upaya Palestina itu di Dewan Keamanan PBB. Bagi AS, juga bagi Isreal sekutunya, negara Palestina hanya bisa ada berdasarkan perundingan langsung dengan Israel.

"Di sini saya menyatakan bahwa Organisasi Pembebasan Palestina siap untuk segera kembali ke meja perundingan berdasarkan ketentuan yang disepakati... dan penghentian penuh kegiatan pemukiman," kata Abbas di hadapan Majelis Umum PBB itu.

Namun dia menegaskan, pembicaraan damai sebelumnya "membentur batu karang posisi Pemerintah Israel, yang dengan cepat meruntuhkan harapan yang sempat muncul ketika  perundingan damai kembali diadakan pada September tahun lalu."

Pemimpin Palestina itu mendapat tepuk tangan meriah dan standing ovation dari sejumlah anggota Majelis Umum PBB ketika ia memasuki lorong, tak lama setelah meminta PBB untuk mengakui negara Palestina.

Abbas berusaha untuk meyakinkan Israel dengan mengatakan, "Tujuan kami tidak untuk mendelegitimasi atau mengisolasi Israel. Sebaliknya, kami ingin mendapatkan legitimasi bagi kepentingan rakyat Palestina. Kami hanya ingin mendelegitimasi kegiatan pemukiman, pendudukan, tindakan apartheid dan logika kekuasaan kejam, serta kami percaya bahwa semua negara di dunia setuju dengan kami dalam hal ini."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau