Keputusan PSSI yang Plinplan Bikin Bingung

Kompas.com - 24/09/2011, 07:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Keputusan PSSI yang berubah-ubah atau plinplan soal kompetisi level tertinggi Liga Indonesia membuat bingung pencinta sepak bola di Tanah Air. Suara-suara kritis hingga ancaman menggugat keputusan PSSI mulai bermunculan.

Gabungan Suporter Rembang (Ganster) menilai pengurus baru PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin Husin minim konsep menggelar kompetisi karena keputusan yang mereka buat berubah-ubah. ”Ini bukan soal PSIR (Rembang) lolos atau gagal. Namun, keputusan PSSI yang sering berubah itu salah satu ukuran bahwa kepemimpinan Djohar Arifin minim konsep kompetisi,” kata Zaenal Abidin, Ketua Umum Ganster di Rembang, kepada Antara, Jumat (23/9).

Dalam rapat Komite Eksekutif PSSI di Jakarta, yang berakhir pada Kamis (22/9) dini hari, PSSI mengubah kembali jumlah klub peserta Liga Indonesia level tertinggi menjadi 24 klub, dari 18 klub yang diputuskan kurang dari sepekan sebelumnya, dengan format tetap satu wilayah.

Awalnya, PSSI menetapkan calon peserta Liga Profesional Level I sebanyak 34 klub, yang rencananya akan dipangkas menjadi 32 klub dan dibagi dalam dua wilayah. Dalam rapat Komite Eksekutif PSSI di Jakarta, 17 September, keputusan itu diubah menjadi kompetisi level I diikuti 18 klub dalam satu wilayah.

Pada sidang Komite Eksekutif, pekan ini, PSSI memutuskan 24 klub yang berpeluang tampil di liga tertinggi itu terdiri atas 14 klub Liga Super musim lalu, empat klub promosi dari Divisi Utama, dan enam klub yang ditunjuk PSSI (Persema Malang, Persibo Bojonegoro, PSM Makassar, PSMS Medan, Bontang FC, dan Persebaya Surabaya).

”Jumlah 24 tim itu hanya kuota, sebagai antisipasi, jika ada tim tidak lolos verifikasi, jumlah peserta kompetisi tidak kurang dari 18 tim. Saya perkirakan tiga atau empat tim bakal drop karena nilai di bawah 50,” kata Tony Apriliani, Wakil Ketua Kompetisi PSSI di kantor PSSI, Jakarta.

Di tempat sama, anggota Komite Eksekutif dan Ketua Komite Hukum PSSI La Nyalla Mattalitti menyatakan, dia tidak pernah menyetujui putusan PSSI terkait 24 klub di liga level I karena itu tak sesuai dengan Statuta PSSI.

Reaksi klub
Di Semarang, PSIS Semarang akan menggugat PSSI terkait keputusan mengubah jumlah tim peserta liga profesional jadi 24 tim. Direktur Teknik PSIS Novel Al Bakrie, seperti dikutip Antara, mengatakan, gugatan itu sedang disiapkan dan akan ditembuskan pada KONI/KOI serta Menteri Pemuda dan Olahraga.

Menurut dia, dibandingkan enam tim tambahan yang ditunjuk PSSI untuk menggenapi 24 tim itu, kondisi mereka tidak lebih baik dari PSIS, termasuk fasilitas stadion mereka miliki.

Sementara di Malang, keputusan PSSI yang mengakomodasi Arema Malang kubu M Nur untuk masuk kompetisi level I dinilai aneh dan tidak transparan. PSSI juga dianggap mengabaikan keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia yang menentukan status legal Arema.

Menurut Media Officer Arema Sudarmaji, Jumat (23/9), surat keputusan Menhuk dan HAM yang dikeluarkan 14 September 2011 telah diserahkan Arema kubu Rendra Kresna kepada Komite Eksekutif PSSI dan pengurus PSSI. Surat itu berisi perubahan direksi PT Arema Indonesia, termasuk pencopotan M Nur dari kursi ketua umum Yayasan Arema.

Di Pangkal Pinang, Pelatih Sriwijaya FC Kashartadi mengatakan, persoalan kebugaran akan dihadapi semua tim jika kompetisi diikuti 24 klub. Sebab, setiap tim harus berlaga 46 kali semusim. (RAZ/ANO/SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau