Hari tani nasional

Punya Tanah Air, tetapi Tidak Tanah

Kompas.com - 24/09/2011, 14:14 WIB

MESUJI, KOMPAS.com — Hari Tani Nasional yang jatuh Sabtu (24/9/2011) ini diperingati dengan meriah oleh ribuan petani penggarap di kawasan Register 45, Mesuji, Lampung. Selama bertahun-tahun, ribuan warga yang tinggal di kawasan ini terabaikan hak-hak sipil, sosial, dan politiknya.

”Kami punya Tanah Air, tetapi tidak tanah,” demikian tulisan sebuah spanduk yang terpasang di dekat panggung orasi di Moro Dadi, wilayah Moro-Moro, Kabupaten Mesuji, Lampung. Ribuan petani di wilayah ini berkumpul memperingati Hari Tani.

Menurut Syahrul Sidin, salah seorang petani penggarap di wilayah ini, selama belasan tahun, sebagai warga negara hak-hak mereka tidak terpenuhi. Di tempat ini warga sulit mendapatkan kartu tanda penduduk, layanan pendidikan, dan kesehatan.

Bahkan, mereka tidak diikutsertakan sebagai pemilih dalam pilkada yang akan dilakukan 28 September ini di Mesuji. Oleh pemerintah daerah, keberadaan mereka tidak diakui sebagai warga karena dianggap menempati wilayah negara, yaitu kawasan hutan register secara ilegal.

Padahal, ungkap Syahrul, ribuan petani yang datang dari berbagai daerah itu terpaksa menempati wilayah hutan register sejak 1998 karena area itu sempat telantar. Tempat tinggal mereka pun kini terancam tergusur.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau