Nigeria Sita Paket Bahan Peledak dalam Kontainer

Kompas.com - 24/09/2011, 21:05 WIB

LAGOS, KOMPAS.com - Otoritas Nigeria menyita bahan peledak dalam jumlah besar, di salah satu kontainer, yang berasal dari China melalui salah satu pelabuhan di Afrika Barat. Kontainer tersebut tiba di Nigeria pada tanggal 14 Juni melalui pelabuhan Seng Shi. Paket tersebut berasal dari salah satu pabrik soket di Huangpu, China.

Hal tersebut disampaikan Wale Adeniyi, juru bicara pelayanan bea cukai Nigeria. Dia mengatakan, paket tersebut menimbulkan kecu rigaan karena adanya perbedaan alamat dengan dokumen pengiriman. Mereka terus melakukan pengawasan untuk memastikan apakah ada seseorang yang akan mengambil paket tersebut.

Para petugas membuka kontainer pada Jumat (23/9/2011) dan memeriksa isinya. Mereka belum bisa memastikan apakah bahan peledak tersebut dari kalangan militer atau komersial. Mereka khawatir jika dibiarkan akan terjadi ketidakstabilan dengan bahan peledak tersebut. Kami lihat ada perbedaan pada kabel dan baut dan kami masih selidiki, katanya.

Otoritas bea cukai kemudian menyerahkan paket tersebut kepada kepolisian Nigeria. Pelabuhan Nigeria di kota Lagos selama ini banyak dipakai untuk distribusi barang kebutuhan sehari-hari seperti makanan impor, mobil, bensin, dan produk olahan lain yang dibutuhkan negeri berpenduduk 150 juta jiwa tersebut.

Meski begitu kadang pelabuhan ini juga dimanfaatkan untuk pengiriman obat dan barang ilegal, yan g melibatkan sejumlah pejabat. Banyak pejabat yang terlibat kasus suap dan korupsi karena barang-barang ilegal tersebut.

Kasus tersebut bukan kali pertama, sebelumnya pengiriman senjata ilegal juga sempat terjadi. Pada bulan Oktober 2010, pihak berwenang di Lagos menemukan paket misterius berupa 107 roket artileri mm, putaran senapan dan senjata lainnya dari Iran. Pengiriman itu diduga menuju Gambia.

Pengiriman bahan peledak tersebut diduga terkait konflik sektarian berdarah dari sekte m uslim radikal dikenal secara lokal sebagai Boko Haram. Sekte, yang menginginkan penerapan syariah secara ketat. Sekte tersebut mengaku bertanggung jawab atas bom mobil bunuh diri pada 26 Agustus di markas besar PBB di Nigeria , yang menewaskan 23 orang dan melukai 116 lainnya. 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau