LAGOS, KOMPAS.com - Otoritas Nigeria menyita bahan peledak dalam jumlah besar, di salah satu kontainer, yang berasal dari China melalui salah satu pelabuhan di Afrika Barat. Kontainer tersebut tiba di Nigeria pada tanggal 14 Juni melalui pelabuhan Seng Shi. Paket tersebut berasal dari salah satu pabrik soket di Huangpu, China.
Hal tersebut disampaikan Wale Adeniyi, juru bicara pelayanan bea cukai Nigeria. Dia mengatakan, paket tersebut menimbulkan kecu rigaan karena adanya perbedaan alamat dengan dokumen pengiriman. Mereka terus melakukan pengawasan untuk memastikan apakah ada seseorang yang akan mengambil paket tersebut.
Para petugas membuka kontainer pada Jumat (23/9/2011) dan memeriksa isinya. Mereka belum bisa memastikan apakah bahan peledak tersebut dari kalangan militer atau komersial. Mereka khawatir jika dibiarkan akan terjadi ketidakstabilan dengan bahan peledak tersebut. Kami lihat ada perbedaan pada kabel dan baut dan kami masih selidiki, katanya.
Otoritas bea cukai kemudian menyerahkan paket tersebut kepada kepolisian Nigeria. Pelabuhan Nigeria di kota Lagos selama ini banyak dipakai untuk distribusi barang kebutuhan sehari-hari seperti makanan impor, mobil, bensin, dan produk olahan lain yang dibutuhkan negeri berpenduduk 150 juta jiwa tersebut.
Meski begitu kadang pelabuhan ini juga dimanfaatkan untuk pengiriman obat dan barang ilegal, yan g melibatkan sejumlah pejabat. Banyak pejabat yang terlibat kasus suap dan korupsi karena barang-barang ilegal tersebut.
Kasus tersebut bukan kali pertama, sebelumnya pengiriman senjata ilegal juga sempat terjadi. Pada bulan Oktober 2010, pihak berwenang di Lagos menemukan paket misterius berupa 107 roket artileri mm, putaran senapan dan senjata lainnya dari Iran. Pengiriman itu diduga menuju Gambia.
Pengiriman bahan peledak tersebut diduga terkait konflik sektarian berdarah dari sekte m uslim radikal dikenal secara lokal sebagai Boko Haram. Sekte, yang menginginkan penerapan syariah secara ketat. Sekte tersebut mengaku bertanggung jawab atas bom mobil bunuh diri pada 26 Agustus di markas besar PBB di Nigeria , yang menewaskan 23 orang dan melukai 116 lainnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang