Kemacetan ibu kota

Tiada Hari Tanpa Macet di Jakarta

Kompas.com - 25/09/2011, 16:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kemacetan kian tak mengenal waktu di Jakarta. Tak hanya pada hari kerja dan jam sibuk, kemacetan juga mendera warga Jakarta di akhir pekan di luar jam sibuk. Seperti terlihat pada Minggu (25/9) pukul 14.00-15.00 di sejumlah ruas jalan di ibu kota.

Jalan S Parman di Jakarta Barat, misalnya, tersendat sejak Slipi hingga ke Slipi Jaya. Kemacetan berlanjut dari Tomang hingga menjelang Grogol.

Antrean kendaraan juga terlihat di Jalan Latumeten dari arah Pluit menuju Slipi. Di bawah jalan layang Grogol antrean kendaraan bisa mencapai lebih dari 500 meter. Jalanan tersendat akibat padatnya volume kendaraan juga terlihat di Jalan Hayam Wuruk menjelang Pasar Glodok, hingga perempatan Kota. Beberapa titik di Jalan Gajah Mada juga tersendat.

Padatnya jalanan Jakarta di akhir pekan tak hanya karena padatnya volume kendaraan yang melintas. Hambatan seperti angkutan umum yang berhenti sembarangan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, angkot ngetem di tepi jalan, dan putaran balik arah.

Antrean kendaraan masuk pusat perbelanjaan, seperti di Slipi Jaya dan Mal Taman Anggrek, juga menyumbang kemacetan lalu lintas.

Tampak beberapa polisi berusaha mengatur agar kendaraan tidak menumpuk di satu titik. Namun, jumlah petugas tidak sebanding dengan banyaknya kendaraan yang melintas.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau