Diburu, Seekor Harimau Pemangsa Petani

Kompas.com - 26/09/2011, 10:00 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com — Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) Bengkulu belum menemukan harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) yang memangsa seorang petani di Desa Pino Baru, Kecamatan Air Nipis, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu.

"Tim kami masih menelusuri lokasi penyerangan di kawasan Hutan Lindung Bukit Daun, tetapi sampai hari ini belum ada tanda-tanda kemunculan harimau," kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu Amon Zamora di Bengkulu, Senin (26/9/2011).

Amon mengaku sudah menurunkan tim beranggotakan 14 orang untuk memantau lokasi penyerangan terhadap seorang warga Desa Pino Baru tersebut. Identifikasi tempat kejadian diperkirakan berada di dalam kawasan Hutan Lindung Bukit Sanggul, berjarak 20 kilometer dari Desa Pino Baru.

Meski sudah diketahui lokasi kejadian berada di dalam kawasan hutan, tetap perlu diambil titik koordinat dan memantau jika harimau tersebut masih berkeliaran di sekitar lokasi penyerangan. "Jika sudah ada korban jatuh, harimau memiliki perilaku mengulang kembali. Jadi, warga yang memasuki Hutan Lindung Bukit Sanggul harus waspada," katanya.

Imbauan dan larangan memasuki Hutan Lindung Bukit Sanggul sudah disosialisasikan petugas BKSDA kepada warga Desa Pino Baru agar tidak memasuki kawasan Bukit Sanggul.

Laporan awal petugas di lapangan, lokasi kejadian tersebut dapat dijangkau dengan jalan kaki selama delapan jam dari jalan utama Padang Capu yang menghubungkan Bengkulu Selatan dengan Pagaralam, Sumatera Selatan.

Jarak tempuh dari desa terdekat ke tempat kejadian, menurut Amon, menjadi kendala utama untuk melakukan proses evakuasi satwa langka tersebut. "Harimau yang sudah pernah memangsa manusia memang harus dievakuasi karena akan mengancam keselamatan warga lain yang memasuki kawasan hutan itu," kata Amon.

Sebelumnya, seorang warga Desa Pino Baru, Kecamatan Air Nipis, Kabupaten Bengkulu Selatan, Milyan (18), ditemukan tewas diterkam harimau dengan kondisi mengenaskan di kebun kopi miliknya di dalam kawasan Bukit Sanggul, Minggu (11/9/2011).

Amon mengatakan, lokasi kejadian yang terdapat di dalam Bukit Sanggul merupakan habitat asli harimau sumatera. Tidak diketahui secara pasti bagaimana korban diserang harimau karena tidak ada saksi mata. Namun, diperkirakan jarak korban dengan harimau yang cukup dekat membuat ia tidak sempat menyelamatkan diri.

"Menurut warga yang menemukan korban, di sekitar mayat korban terdapat banyak jejak harimau, korban dibawa pulang ke perkampungan penduduk dengan cara digotong secara bergantian oleh teman-temannya," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau