DPR Desak Pemerintah dan BI Koordinasi Mitigasi Krisis

Kompas.com - 26/09/2011, 12:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Krisis global kian mengkhawatirkan. Meski beberapa pihak memprediksi dampaknya tidak akan terlalu terasa bagi Indonesia, namun langkah-langkah pencegahan wajib dipersiapkan untuk menghadapi berbagai resiko yang mengancam.

Anggota Komisi XI DPR RI, Kemal Azis Stamboel, meminta pemerintah dan bank sentral untuk meningkatkan koordinasi dalam melakukan mitigasi alias meminimalisasi risiko guncangan ekonomi global yang berpotensi menuju resesi global.

Menurutnya, rerdapat risiko krisis ekonomi dan keuangan global yang bahkan lebih buruk dari krisis sebelumnya. "Karena risiko krisis sekarang melibatkan tidak hanya sektor swasta, tetapi juga karena beberapa negara yang mendekati pailit," katanya Senin, (26/9/2011).

Indonesia saat ini memiliki lebih banyak alat kebijakan untuk memitigasi dampak krisis global terutama untuk first round effect. Dengan cadangan devisa diatas US$120 miliar dan cadangan sisa anggaran lebih (SAL) diatas Rp 90 triliun, sebagai amunisi cukup memadai. Belum kalau ditambah Bond Stabilization Fund (BSF) yang dikoordinasi melalui BUMN. "Tentunya guncangan global bisa diminimalkan dampaknya ke pasar modal, pasar uang dan sektor keuangan. Tinggal bagaimana koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal dalam memilih kebijakan yang tepat," jelasnya.

Kondisi yang lebih baik menurutnya juga dimiliki oleh sektor perbankan yang sebelumnya cukup rentan terpapar krisis global. Kebijakan Bank Indonesia yang sangat ketat, dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) telah meningkatkan kekuatan perbankan dalam negeri.

"Hasil stress test yang dilakukan bank sentral terhadap seluruh bank di Indonesia menunjukkan likuiditas dan permodalan aman walaupun terjadi worst case scenario. Rasio Kecukupan Modal (CAR) perbankan masih di atas 8 persen," katanya.

Tetapi menurut anggota DPR dari FPKS ini, yang harus lebih mendapat perhatian pemerintah dan bank sentral adalah second round effect dari potensi krisis dan resesi global yang akan terjadi. Ini akan berdampak bukan hanya pada sektor keuangan dan pasar modal, tetapi juga sektor riil.

Dalam jangka menengah tentu dampaknya akan terasa pada ekspor dan rantai industri pendukung ekspor. Selain juga pertumbuhan sektor riil akibat guncangan foreign direct investment (FDI) yang mengalami koreksi. “Pemerintah harus menyiapkan secara serius kebijakan stimulus untuk mendongkrak sektor riil dan daya saing. Untuk itu realisasi belanja APBN-P 2011 harus dipastikan eksekusinya,” ujarnya. (Yudo Winarto/Kontan)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau