JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) IV/Diponegoro, Brigadir Jenderal Nugroho Widyotomo, menyatakan rasa sedihnya atas peristiwa bom bunuh diri di Gereja GBIS Kepunton Solo, Jawa Tengah, pada hari Minggu, 25 September 2011 siang. Padahal Kota Solo dikenal sebagai kota wisata yang aman dan tentram.
"Apapun alasannya, dari agama apapun, baik itu Islam, Kristen, Katolik, Hindu maupun Buddha, semua tidak dibenarkan, karena merusak empat pilar Negara yaitu Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika," kata Nugroho di depan anggota Markas Kodam IV/Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, seusai upacara Senin (26/9/2011), yang siaran persnya dikirim Penerangan Kodam kepada Kompas di Jakarta.
Jenderal bintang satu ini menambahkan, bangsa Indonesia merupakan negara kesatuan, bukan bangsa federal karena bangsa Indonesia dikenal kebhinnekaannya, biar berbeda suku, ras, etnis, agama tetapi sejatinya tetap bangsa Indonesia.
Kepada para prajuritnya, orang kedua di jajaran Kodam IV/Diponegoro ini mengingatkan bahwa TNI adalah sebagai penopang bangsa, tidak boleh ditawar-tawar TNI harus menjaga keutuhan bangsa Indonesia.
"Kita harus bersatu dengan segenap komponen masyarakat lainnya, manakala ada hal-hal yang aneh atau mencurigakan harus segera dilaporkan kepada aparat yang berwenang, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan dapat diantisipasi secepat mungkin," kata Nugroho.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang