Kekeringan

Air Bersih Semakin Sulit Diperoleh

Kompas.com - 27/09/2011, 00:03 WIB

TEGAL, KOMPAS.com - Kesulitan air bersih semakin dirasakan masyarakat di Kota Tegal, Jawa Tengah, pada musim kemarau kali ini. Setelah warga di Kelurahan Kalinyamat Kulon dan Sumurpanggang, Kecamatan Margadana kesulitan air bersih, warga di Kelurahan Muarareja juga mengalami hal serupa.

Mereka terpaksa antre air yang diberikan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Tegal, Senin (26/9/2011). Warga membawa berbagai perlengkapan yang bisa digunakan untuk menampung air, seperti jerigen, ember, dan drum, agar bisa mendapatkan air bersih secara gratis.

Suyi Sumiyati (80), warga Kelurahan Muarareja, mengatakan, kesulitan air bersih terjadi sejak tiga bulan lalu. Warga tidak bisa lagi memanfaatkan air sumur pompa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, karena debit airnya kecil.

Untuk mendapatkan air dari sumur tersebut, ia harus telaten mengumpulkannya sedikit demi sedikit. Air yang dihasilkan juga terasa payau (asin), sehingga hanya bisa digunakan untuk mencuci dan mandi.

Untuk memasak, ia harus membeli air bersih dari pedagang keliling, seharga Rp 2.500 per jerigen. Dengan anggota keluarga 10 orang, Suyi mengaku membutuhkan dua jerigen air per hari. Oleh karena itu, saat berlangsung pembagian air bersih gratis, ia mengumpulkan beberapa ember dan jerigen unt uk menampung air.

Sekarang sumur pompa sudah sulit keluar airnya, kata Agus Sugiyono (40), warga Kelurahan Muarareja lainnya. Bahkan agar bisa mendapatkan air untuk mandi dan mencuci, ia harus memompa air sedikit demi sedikit sejak sore hingga tengah malam.

Untuk memasak, Agus dan keluarganya juga membeli air bersih dari pedagang, sebanyak empat jerigen per hari. Tidak jarang, air itu juga digunakan untuk mandi, saat sumur pompa sudah tidak bisa mengeluarkan air.

Kesulitan air bersih sangat membebani masyarakat di wilayah tersebut, yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan tradisional. Terlebih saat ini, sebagian besar nelayan di Muarareja sedang tidak melaut, karena hasil tangkapan sedikit.

Oleh karena itu, sebagian warga nekat memanfaatkan air sum ur pompa yang rasanya payau, untuk minum dan memasak. "Kalau terpaksa tidak punya uang, kami minum air sumur yang rasanya payau" tutur Abu Ali (42), warga RT 4, RW 3, Kelurahan Muarareja.

Warga sangat berharap agar pemerintah lebih sering memberikan bantu an air bersih kepada masyarakat. Terlebih lagi, kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

Kepala BPN Kota Tegal, Hayu Susilo, mengatakan, bantuan air bersih dalam rangka kepedulian terhadap masyarakat yang kekurangan air bersih . Selain di Muarareja, bantuan air bersih juga diberikan ke wilayah Kelurahan Kalinyamat Kulon dan Kalinyamat Wetan di Kecamatan Tegal Selatan.

Wakil Wali Kota Tegal, Habib Ali Zaenal Abidin, dalam kesempatan terpisah mengatakan, pemerintah akan memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat, sepanjang mereka masih membutuhkan Di wilayah Kota Tegal, terdapat tiga daerah yang rawan kekeringan, yaitu Kalinyamat Kulon, Sumurpanggang, dan perumahan Sub Inti di Kelurahan Panggung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau