Sisi lain istana

SBY tentang Bom di Cirebon dan Solo

Kompas.com - 27/09/2011, 02:56 WIB

Kamis, 17 Maret 2011, sekitar enam bulan lalu, setelah terjadi peristiwa paket bom buku, di Kantor Presiden yang terletak antara Istana Merdeka dan Istana Negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan di depan para wartawan, ”Jangan tidak mengantisipasi, tidak melakukan kegiatan-kegiatan intelijen, sehingga setiap saat kita bisa mengalami kejadian seperti itu.”

Pernyataan Presiden ini sebagai instruksi kepada Badan Intelijen Negara, kepolisian, dan jajaran TNI, terutama komando teritorial, agar bekerja keras mengungkapkan pelaku. Ia menegaskan, tidak ada hal yang lebih penting bagi masyarakat selain rasa aman. Oleh karena itu, tidak boleh ada toleransi sedikit pun bagi kelompok yang mengganggu rasa aman. ”Jangan berikan ruang apa pun kepada siapa pun yang akan merobek situasi aman yang sudah kita jaga. Lakukan segala sesuatu untuk melindungi warga kita,” kata Presiden saat itu.

Empat hari kemudian, dalam perayaan Dharma Santi Nasional di kompleks Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta, SBY mengatakan, penyebaran bahan peledak dalam bom buku telah menimbulkan keresahan dan rasa saling curiga di tengah masyarakat. Menurut SBY, hal itu menciptakan teror di tengah masyarakat.

Sekitar satu bulan kemudian, Jumat, 15 April 2011, sekitar pukul 12.20, di dalam Masjid Adz-Dzikro di lingkungan Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat, terjadi bom bunuh diri. Pelakunya tewas, luka di bagian perut, hampir bolong. Presiden mengecam tindakan itu. Hingga 15 April 2011, aparat Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) menangkap 13 orang yang diduga terlibat dan menyita berbagai jenis senjata.

Ketika mengecam aksi bom bunuh diri Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah, Minggu (25/9), SBY di Kantor Presiden, kompleks istana, Jakarta, antara lain mengatakan, dari investigasi sementara, pelaku diduga masih terkait dengan jaringan terorisme Cirebon itu. Di depan para wartawan, SBY juga minta dilakukan investigasi internal, baik di dalam jajaran kepolisian, intelijen, maupun TNI, untuk memastikan aparat keamanan telah bekerja dengan baik dan menjalankan tugas sebagaimana yang diharapkan dalam menangani terorisme.

Bukan pernyataan yang indah

Masih ada pernyataan SBY di Cilangkap ketika terjadi paket bom buku di Jakarta. ”Semua anggota masyarakat, apa pun agamanya, ingin hidup aman. Karena itu, pupuklah jiwa dan hati agar bersemi perilaku yang sungguh cinta akan kedamaian. Kedamaian ada dalam hati, bukan dari pidato yang berapi-api dan pernyataan politik yang indah,” begitulah bunyinya. (J OSDAR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau