Kamis, 17 Maret 2011, sekitar enam bulan lalu, setelah terjadi peristiwa paket bom buku, di Kantor Presiden yang terletak antara Istana Merdeka dan Istana Negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan di depan para wartawan, ”Jangan tidak mengantisipasi, tidak melakukan kegiatan-kegiatan intelijen, sehingga setiap saat kita bisa mengalami kejadian seperti itu.”
Pernyataan Presiden ini sebagai instruksi kepada Badan Intelijen Negara, kepolisian, dan jajaran TNI, terutama komando teritorial, agar bekerja keras mengungkapkan pelaku. Ia menegaskan, tidak ada hal yang lebih penting bagi masyarakat selain rasa aman. Oleh karena itu, tidak boleh ada toleransi sedikit pun bagi kelompok yang mengganggu rasa aman. ”Jangan berikan ruang apa pun kepada siapa pun yang akan merobek situasi aman yang sudah kita jaga. Lakukan segala sesuatu untuk melindungi warga kita,” kata Presiden saat itu.
Empat hari kemudian, dalam perayaan Dharma Santi Nasional di kompleks Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta, SBY mengatakan, penyebaran bahan peledak dalam bom buku telah menimbulkan keresahan dan rasa saling curiga di tengah masyarakat. Menurut SBY, hal itu menciptakan teror di tengah masyarakat.
Sekitar satu bulan kemudian, Jumat, 15 April 2011, sekitar pukul 12.20, di dalam Masjid Adz-Dzikro di lingkungan Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat, terjadi bom bunuh diri. Pelakunya tewas, luka di bagian perut, hampir bolong. Presiden mengecam tindakan itu. Hingga 15 April 2011, aparat Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) menangkap 13 orang yang diduga terlibat dan menyita berbagai jenis senjata.
Ketika mengecam aksi bom bunuh diri Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah, Minggu (25/9), SBY di Kantor Presiden, kompleks istana, Jakarta, antara lain mengatakan, dari investigasi sementara, pelaku diduga masih terkait dengan jaringan terorisme Cirebon itu. Di depan para wartawan, SBY juga minta dilakukan investigasi internal, baik di dalam jajaran kepolisian, intelijen, maupun TNI, untuk memastikan aparat keamanan telah bekerja dengan baik dan menjalankan tugas sebagaimana yang diharapkan dalam menangani terorisme.
Masih ada pernyataan SBY di Cilangkap ketika terjadi paket bom buku di Jakarta. ”Semua anggota masyarakat, apa pun agamanya, ingin hidup aman. Karena itu, pupuklah jiwa dan hati agar bersemi perilaku yang sungguh cinta akan kedamaian. Kedamaian ada dalam hati, bukan dari pidato yang berapi-api dan pernyataan politik yang indah,” begitulah bunyinya.