JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selalu memerintahkan 'usut tuntas' setiap kali ada peristiwa bom bunuh diri bernuansa terorisme yang terjadi di Tanah Air. Namun, pada faktanya, kejadian terus berulang.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pemerintah masih perlu berusaha lebih lagi untuk menanggulanginya karena mencakup dimensi internal dan eksternal masyarakat. Kerja pemerintah belum selesai.
"Pemerintah sudah berusaha tapi dibutuhkan lebih banyak lagi karena menyangkut masalah eksternal dan internal mereka (masyarakat)," ungkapnya di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (27/9/2011).
Menurut Kalla, proses deradikalisasi mencakup faktor internal dan eksternal dari masyarakat. Jika sebelumnya lebih banyak bergerak di dimensi internal, pemerintah diminta untuk lebih memperhatikan kondisi masyarakat. Pasalnya, tindakan radikalisasi dipicu oleh persoalan inti di tengah masyarakat, seperti masalah kemiskinan, pendidikan, dan ketidakadilan yang dialami.
"Jadi itu berpadu dari masalah kemiskinan, pendidikan, dan pengaruh dari luar. Lalu masalah ketidakadilan. Kalau masalah fokusnya tentu berkurangnya nilai harmonis daripada masyarakat dan pengurangan ideologi ekstrim itu," tambahnya.
Dengan membenahi kondisi-kondisi di mana masyarakat tidak puas, Kalla mengatakan kepatuhan masyarakat atau social order akan terbentuk dengan sendirinya. Saat ini, kepatuhan itulah yang hilang. Jika ada kepatuhan, maka tercipta kepercayaan pada pemerintah dan radikalisasi sulit untuk bertumbuh.
Oleh karena itu, lanjutnya, kerja pemerintah jangan setengah-setengah dalam menanggulangi radikalisasi. Kalla meminta pemerintah menyelesaikannya hingga ke akar-akarnya sehingga bisa tuntas seperti seruan Presiden selama ini.
"Ini kan kita 200 juta orang, berada hidup di tengah-tengah masyarakat yang luas itu. Selama masyarakat masih ada masalah-masalah kepatuhan karena masalah kemiskinan, ketidakadilan, masalah hukum dan masalah harmoni, (radikalisasi) mudah timbul. Nah karena itu masalah di lingkungan ini dulu diperbaiki, sambil masalah ideologinya diperbaiki. Keduanya bersamaan," paparnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang