Bangkok kini memiliki kereta layang, kereta bawah tanah, dan kereta bandara. Kombinasi moda angkutan kereta ini kini bisa mengangkut hingga 630.000 penumpang per hari.
Jumlah penumpang yang terangkut memang belum banyak. Namun, dampak dari keberadaan sistem transportasi ini terlihat begitu nyata bagi siapa pun yang pertama kali menjejakkan kaki di negeri ”Gajah Putih” ini.
Kemacetan yang masih menghantui di sejumlah jalan di Bangkok tidak menutupi geliat di tengah kota yang semarak dengan pembangunan properti, perdagangan, dan kegiatan pendukung pariwisata.
Transportasi dan perekonomian ibarat dua sisi mata uang yang sama. Demikian dijelaskan Saksith Chalermpong, akademisi yang juga ahli transportasi dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok. Keduanya saling memengaruhi tanpa dapat dipastikan mana yang menggerakkan terlebih dahulu. Pergerakan manusia untuk kegiatan apa pun butuh alat transportasi. Layanan transportasi yang memadai akan berpengaruh terhadap produktivitas kegiatan manusia.
Sebelum era transportasi massal berbasis rel dimulai, pembangunan kondominium di pusat Kota Bangkok sangat jarang. Masyarakat kelas menengah dan kalangan atas Bangkok sebelumnya lebih memilih tinggal di wilayah pinggiran yang memiliki akses yang baik dan dekat ke jalan arteri atau tol. Namun, sejak beroperasinya Bangkok Mass Transit System (BTS) atau skytrain (1999) dan mass rapid transit (2004) kondominium tumbuh menjamur di dekat stasiun.
Tinggal di apartemen atau kondominium menjadi pilihan rasional bagi penduduk Bangkok dan sekitarnya untuk menghindari kemacetan. Data dari pemerintah setempat menunjukkan, pada tahun 2010 hanya 26 persen rumah baru yang dibangun di wilayah suburban Bangkok. Adapun pembangunan kondominium di tengah kota mencapai 46 persen.
Salah satu perusahaan properti bernama Asian Property Development, pada Agustus lalu melaporkan pembangunan delapan proyek rumah tinggal baru pada semester kedua tahun ini. Empat di antaranya proyek pembangunan kondominium dan empat proyek lain merupakan townhouse.
Mendekat ke pusat kota ini dilakukan sebagai cara untuk mengurangi biaya transportasi yang semakin mahal akibat kemacetan. Kemacetan begitu memengaruhi kualitas hidup masyarakat Bangkok. Waktu terbuang, kelelahan yang mendera, membuat penduduk yang tinggal di suburban memilih kembali ke tengah kota.
Padahal, ketika pembangunan di tengah kota atau di pusat-pusat bisnis dan komersial semakin gencar, ditambah dengan akses transportasi yang baik, maka biaya persewaan gedung untuk perkantoran atau tempat tinggal di lokasi tersebut akan semakin tinggi. Hal itu disebabkan tingginya harga lahan. Biaya persewaan akan menurun secara bertahap jika semakin menjauhi pusat. Namun, membaiknya tingkat kesejahteraan membuat masyarakat memilih tinggal di apartemen atau kondominium bukan sebuah kemustahilan.
Harga tanah di tengah kota yang kian tinggi tidak menjadi halangan bagi investor properti. Para investor akan memaksimalkan investasinya dengan membangun gedung vertikal setinggi mungkin.
Fenomena kembali ke kota ini menunjukkan Bangkok kurang berhasil membendung arus urbanisasi ke pusat ibu kota. Daya tarik Bangkok sebagai pusat ekonomi, budaya, dan politik begitu kuat untuk menarik migrasi dari wilayah lain ke pusat kota. Sama halnya dengan Jakarta, banyak ”gula” yang ditawarkan bagi pendatang.
Area Silom dan Sukhumvit merupakan pusat bisnis terbesar di Bangkok, dengan perdagangan ritel yang terpusat di Siam Square. Sistem transportasi berbasis rel yang ada, terutama kereta layang, menghubungkan pusat bisnis Silom dan Shukumvit. Interkoneksi kedua jalur ini terletak di pusat komersial, yaitu Siam. Keterhubungan pusat bisnis dan komersial ini memudahkan mobilitas penduduk, terutama pekerja, di sekitar area tersebut.
Geliat perekonomian Bangkok yang membaik pascakrisis finansial dan sejak dioperasikannya BTS telah memunculkan pusat-pusat komersial baru di sepanjang lintasan rel. Sebut saja Aree-Saphan Kwai, Ratchada, Chatuchak, dan Thong Lor. Di pusat komersial yang baru ini bermunculan bangunan perkantoran baru. Namun, tidak sepadat di Silom dan Sukhumvit.
Pusat bisnis dan komersial baru di tengah kota ini memberi peluang kerja bagi penduduk Bangkok dan lima provinsi yang menjadi penyangganya. Peluang ini ditambah dengan daya tarik upah minimum di Bangkok yang jauh lebih tinggi dibandingkan provinsi lain.
Tahun ini, upah minimum secara nasional di Thailand sebesar 215 baht per hari, naik dibandingkan tahun lalu yang hanya 203 baht per hari. Sebulan, pendapatan yang bisa diterima pekerja sekitar 6.400 baht atau berkisar Rp 1,4 juta hingga Rp 1,5 juta.
Upah minimum yang diterima pekerja di Bangkok lebih tinggi, berkisar 250 baht-260 baht per hari. Artinya, dalam sebulan upah yang diterima mencapai Rp 1,7 juta.
Pemerintahan perdana menteri baru terpilih Yingluck Shinawatra berupaya meningkatkan penghasilan masyarakat kelas bawah dengan menjanjikan kenaikan upah minimum menjadi 300 baht per hari. Kebijakan yang berlaku secara nasional ini akan diterapkan awal 2012.
Praktiknya, upah minimum yang diterima pekerja di Bangkok umumnya selalu lebih tinggi dari rata-rata nasionalnya. Bahkan, calon pekerja yang baru lulus perguruan tinggi diiming- imingi mendapatkan gaji awal 15.000 baht (sekitar Rp 3,5 juta) per bulan.
Kondisi upah di Bangkok yang lebih tinggi dari upah wilayah lain di Thailand menunjukkan kesejahteraan di ibu kota negara Thailand juga tinggi. Pichai Taneerananon, akademisi dari Universitas Songkla Thailand, menyebutkan, pendapatan per kapita Bangkok tiga kali lipat pendapatan per kapita nasional. Jika pendapatan per kapita Thailand sekarang 4.600 dollar AS, maka pendapatan per kapita Bangkok bisa mencapai 13.000 dollar AS.
Daya tarik Bangkok sebagai kota metropolitan tidak hanya dari pusat bisnisnya yang kian berkembang dan upah yang ditawarkan, tetapi Bangkok juga merupakan pusat pemerintahan, keuangan, pendidikan, markas lembaga internasional, pusat seni budaya, wisata, dan belanja.
Semua geliat perekonomian ini bertumpu pada penyediaan transportasi umum yang memadai. Meski Bangkok telah dilayani transportasi massal berbasis rel dan jalan yang cukup baik, kondisi ini tak mengurangi minat konsumen kendaraan pribadi.
Tingkat penjualan mobil dilihat dari jumlah mobil baru yang teregistrasi rata-rata 11,3 persen per tahun, atau 180.000 unit per tahun. Sementara pertambahan sepeda motor baru mencapai 14 persen atau hampir 300.000 unit per tahun.
Transportasi umum yang dikembangkan di Bangkok juga menguntungkan wisatawan. Pelancong dimudahkan berkeliling kota dengan angkutan massal yang nyaman.
Sektor pariwisata memang penting karena di sinilah andalan pendapatan Thailand.
Hal ini bisa dilihat dari pesatnya jumlah kunjungan wisata ke Thailand yang rata-rata mencapai 1,7 juta orang per bulan pada periode Januari hingga April 2011. Bangkok merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Thailand.
Jumlah kunjungan wisata ke Thailand jauh di atas Indonesia. Pada periode Januari-April 2011, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia tercatat 2,3 juta orang.
Dengan potensi kunjungan wisatawan yang sedemikian besar, Bangkok mengutamakan berbagai pelayanan bagi wisatawan. Wisatawan tidak perlu terjebak kemacetan. Mobilitas wisatawan bisa terakomodasi dengan kereta sejak tiba di Bandara Suvarnabhumi hingga ke tengah kota. Belum lagi kenyamanan stasiun yang banyak terhubung dengan pusat perbelanjaan beken di Bangkok. Hal ini memudahkan wisatawan sekaligus memperbesar pundi-pundi pendapatan dari penjualan aneka barang suvenir.
Efek ganda dari transportasi massal inilah yang ditangkap Bangkok dan mendorong percepatan pembangunan transportasi massal. (Gianie/