Transportasi

Konversi BBG Angkot Harus Jalan

Kompas.com - 28/09/2011, 02:40 WIB

BOGOR, KOMPAS - Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, diminta kembali mendorong implementasi program konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas untuk angkutan kota. Semua pemangku kepentingan harus mengevaluasi program itu agar bisa berlanjut.

Ketua Gerakan Rakyat Bogor Bersatu Harry Ara menuturkan hal itu, Selasa (27/9). Menurut dia, pemerintah tidak bisa diam melihat program yang menggunakan anggaran negara itu terhenti. Dia menilai proses perencanaan kurang baik sehingga konversi itu berhenti.

Sejak akhir 2009, Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor sudah mendistribusikan dan memasang 1.000 alat pengonversi BBM menjadi BBG, sekaligus tabung BBG di angkot berbagai rute di Kota Bogor. Jumlah itu sekitar 25 persen dari angkot yang beroperasi di Kota Bogor, di luar angkutan Kabupaten Bogor yang juga melintas di Kota Bogor. Selain itu, juga sudah dibangun stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di belakang Terminal Baranangsiang.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Organisasi Angkutan Darat Kota Bogor Ishak AR menuturkan, sebagian besar pemilik angkot bahkan sudah melepas tabung karena khawatir rusak atau dicuri. Namun, mereka siap memasangnya lagi jika ada kepastian pasokan BBG. ”Kami berharap cepat saja direalisasikan karena perhitungan ekonominya menguntungkan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala DLLAJ Kota Bogor Suharto secara terpisah menuturkan, pihaknya masih menunggu kebijakan pemerintah pusat untuk menetapkan harga dan pasokan BBG yang akan digunakan untuk program konversi bahan bakar angkot. Hal itu diharapkan bisa direalisasikan akhir 2011 ini.

”Selama ini terkendala persoalan harga. Ketika awal ditetapkan Rp 2.562 per liter, namun Desember 2010 ada kenaikan harga jadi Rp 3.100 per liter. Pihak ketiga yang akan mengoperasikan SPBG menjadi bingung berapa harus menjualnya,” tutur Suharto.

Dia mengaku, saat ini sudah ada pembicaraan dengan pemerintah pusat dan PT Pertamina untuk memungkinkan selisih harga diberi subsidi pemerintah. Suharto menjamin, begitu persoalan harga dan pasokan BBG teratasi, program itu akan kembali bergulir.

”Hitungan teknisnya tetap menguntungkan bagi sopir karena satu liter bensin bisa menempuh 10 kilometer, sedangkan untuk jarak serupa perlu 1,1 liter BBG. Namun, harga premium jauh lebih tinggi, Rp 4.500 per liter. BBG masih Rp 3.100,” ujarnya.(GAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau