BOGOR, KOMPAS
Ketua Gerakan Rakyat Bogor Bersatu Harry Ara menuturkan hal itu, Selasa (27/9). Menurut dia, pemerintah tidak bisa diam melihat program yang menggunakan anggaran negara itu terhenti. Dia menilai proses perencanaan kurang baik sehingga konversi itu berhenti.
Sejak akhir 2009, Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Bogor sudah mendistribusikan dan memasang 1.000 alat pengonversi BBM menjadi BBG, sekaligus tabung BBG di angkot berbagai rute di Kota Bogor. Jumlah itu sekitar 25 persen dari angkot yang beroperasi di Kota Bogor, di luar angkutan Kabupaten Bogor yang juga melintas di Kota Bogor. Selain itu, juga sudah dibangun stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) di belakang Terminal Baranangsiang.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Organisasi Angkutan Darat Kota Bogor Ishak AR menuturkan, sebagian besar pemilik angkot bahkan sudah melepas tabung karena khawatir rusak atau dicuri. Namun, mereka siap memasangnya lagi jika ada kepastian pasokan BBG. ”Kami berharap cepat saja direalisasikan karena perhitungan ekonominya menguntungkan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala DLLAJ Kota Bogor Suharto secara terpisah menuturkan, pihaknya masih menunggu kebijakan pemerintah pusat untuk menetapkan harga dan pasokan BBG yang akan digunakan untuk program konversi bahan bakar angkot. Hal itu diharapkan bisa direalisasikan akhir 2011 ini.
”Selama ini terkendala persoalan harga. Ketika awal ditetapkan Rp 2.562 per liter, namun Desember 2010 ada kenaikan harga jadi Rp 3.100 per liter. Pihak ketiga yang akan mengoperasikan SPBG menjadi bingung berapa harus menjualnya,” tutur Suharto.
Dia mengaku, saat ini sudah ada pembicaraan dengan pemerintah pusat dan PT Pertamina untuk memungkinkan selisih harga diberi subsidi pemerintah. Suharto menjamin, begitu persoalan harga dan pasokan BBG teratasi, program itu akan kembali bergulir.
”Hitungan teknisnya tetap menguntungkan bagi sopir karena satu liter bensin bisa menempuh 10 kilometer, sedangkan untuk jarak serupa perlu 1,1 liter BBG. Namun, harga premium jauh lebih tinggi, Rp 4.500 per liter. BBG masih Rp 3.100,” ujarnya.(GAL)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang