Manokwari, Kompas -
Pembangunan kembali Wasior pascabanjir bandang seperti kondisi semula masih jauh dari target karena tahapan rehabilitasi-rekonstruksi molor hingga empat bulan.
Andri Agus (30), pengungsi yang tinggal di hunian sementara, mengatakan, Rabu (28/7), warga kian hari kian resah tinggal di Wasior. Sebab, hampir setahun pascabanjir tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sungai-sungai yang rusak akibat banjir.
Dinas sosial setempat mencatat, jumlah pengungsi 6.702 orang (1.691 keluarga).
Hujan deras yang mengguyur Wasior pekan lalu sempat membuat pengungsi khawatir karena aliran air dari bukit mengalir deras ke arah hunian sementara. Volume air di sungai dan selokan meluap ke jalan. ”Hidup jadi tidak tenang. Ini gara-gara pemerintah belum juga memperbaiki sungai yang dangkal,” kata Andri.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Teluk Wondama Tonny Marani mengakui, tahapan rehabilitasi-rekonstruksi molor dari rencana. Dampaknya, banyak warga dan pengungsi mengeluh karena merasa tidak nyaman dan aman hidup di Wasior.
Kehidupan warga juga serba susah karena terbatasnya
Tonny menegaskan, tahap pemulihan sudah selesai dilakukan Juli lalu yang meliputi perbaikan dermaga Pelabuhan Wasior,
Namun, pemulihan tersebut belum mampu menenangkan warga Wasior karena curah hujan yang tinggi di Wasior membuat perasaan warga selalu cemas. Sekretaris Komisi D DPR Papua Barat Bidang Kesejahteraan Rakyat Saleh Siknun mengatakan, kondisi itu terjadi karena tiap pihak yang bertanggung jawab membangun kembali Wasior jalan sendiri-sendiri.(THT)