Menanti Realisasi Pembayaran Cicilan Dana Bakrie Life

Kompas.com - 29/09/2011, 09:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Malang betul nasib Wahyudi. Cita-cita menikmati hasil keringatnya di hari tua pupus, setelah ia mempercayakan pengelolaan dananya lewat produk asuransi jiwa berbasis investasi Diamond Investa dari Asuransi Jiwa Bakrie (Bakrie Life). Alih-alih berkembang, dana pensiunan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) ini lenyap seiring anjloknya pasar modal tahun 2008 lalu.

Bakrie Life menjanjikan pengembalian dana pada seluruh nasabah, termasuk Wahyudi. Namun, skema cicilan pengembalian dana setiap triwulan kerap meleset.

Alhasil, Wahyudi terpaksa mengisi hari tua dengan memperjuangkan haknya. "Selama ini, saya berjuang dengan menggelar aksi demo, menemui Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) selaku regulator, menemui Bakrie Life, termasuk menyurati Presiden RI," ujarnya kepada KONTAN, Rabu (28/9).

Kini, Wahyudi hanya bisa mencurahkan isi hatinya kepada sejumlah nasabah Diamond Investa lain, yang senasib dan bahu-membahu menyuarakan tuntutan serupa. Wahyudi mengaku, cuma bisa berusaha dan menyerahkan segalanya dalam doa.

Yoseph, 42 tahun bernasib serupa. Mantan karyawan bank swasta, yang kini berwiraswasta ini akan terus memperjuangkan pengembalian dana. Sebab, uang ini menjadi satu-satunya andalan Yoseph menghidupi keluarga.

Ia akan mengingatkan manajemen Bakrie Life dan regulator agar menagih pengembalian dana. Dia bahkan akan melapor dan meminta bantuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) agar Bakrie Life tidak menghindari tanggung jawab, termasuk dengan terus menggelar aksi demo.

Intinya, sampai batas waktu yang disepakati dalam Surat Keputusan Bersama manajemen Bakrie Life dan nasabah, seluruh dana harus kembali ke kantong-kantong yang berhak. "Tidak ada alasan bagi Bakrie Life untuk menunda pengembalian dana," tegas Yoseph.

Sekadar mengingatkan, sebanyak 250 nasabah dengan total dana Rp 360 miliar harus gigit jari, karena kehilangan dana investasi. Klaim sebagian kecil nasabah dengan dana di bawah Rp 250 juta sudah terbayar. Tapi, sebagian besar nasabah dengan dana di atas Rp 250 juta masih tertunggak.

Hingga kini, tunggakan Bakrie Life mencapai Rp 70 miliar, terdiri dari 45 persen sisa cicilan periode September tahun lalu sekitar Rp 8 miliar, Desember 2010 Rp 20 miliar, Maret 2011 Rp 20 miliar, dan Juni 2011 Rp 20 miliar, termasuk bunga Agustus 2011 Rp 2 miliar.

Jika manajemen Bakrie Life menunda pembayaran 30 September ini, tunggakan akan mencapai Rp 92 miliar, termasuk bunga Rp 2 miliar per bulan. Totalnya, sisa utang Bakrie Life sampai 2012 mencapai Rp 270 miliar.

Sayang, Direktur Utama Bakrie Life, Timoer Soetanto tidak menjawab panggilan telepon atau pesan singkat KONTAN. Namun, sebelumnya Timoer pernah mengungkapkan, pihaknya akan terus mengupayakan pendanaan dari induk usaha, yaitu Bakrie Capital Indonesia.

Bakrie Life memang sudah tidak memiliki kemampuan mengganti dana-dana yang lenyap tersebut. Dia hanya menunggu bantuan induk. "Informasi dari grup, saat ini pendanaan masih diusahakan. Segera setelah dana siap, pembayaran akan dilakukan," tutur Timoer.

Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, Isa Rachmatarwata juga kerap memanggil manajemen Bakrie Life dan induk usahanya, untuk mencari jalan keluar.

Sanksi terberat dari regulator adalah mencabut izin usaha Bakrie Life. Namun, Bapepam-LK memilih mediasi dan menjembatani nasabah agar manajemen menyelesaikan kewajibannya dahulu.

Isa menilai, manajemen bisa menunjukkan komitmen dengan memenuhi kewajiban pengembalian dana nasabah sesuai skema. "Misalnya, jangan menunda pembayaran, meskipun kesiapan dana belum seluruhnya terkumpul, biar sedikit harus segera dibayar," pungkas Isa.

Pengembalian dana kasus gagal bayar produk asuransi Bakrie Life dilakukan dengan skema 25 persen pada 2010, 25 persen pada 2011, dan 50 persen pada 2012. Semoga Bakrie Life seperti merpati yang tidak pernah ingkar janji lagi. (Christine Novita Nababa/Kontan)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau