Produksi Melati di Tegal Turun

Kompas.com - 29/09/2011, 13:47 WIB

SLAWI, KOMPAS.com - Kemarau tidak hanya berdampak pada penurunan produksi pangan, tetapi juga penurunan produksi melati di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Saat ini, produksi melati di wilayah tersebut turun hingga 50 persen, bila dibandingkan kondisi normal.

Sentra tanaman melati di Kabupaten Tegal antara lain di Desa Sidoharjo, Kecamatan Surodadi, seperti terlihat Kamis (29/9/2011). Menurut Ketua Kelompok Tani Sekar Arum Puspa Jaya Desa Sidoharjo, Mahfud, luas lahan melati di Desa Sidoharjo sekitar 160 hektar.

"Sekarang produksi kurang, soalnya kalau tidak disiram tidak keluar bunga," ujarnya. Saat ini, rata-rata dari satu hektar lahan dihasilkan sekitar 20 hingga 25 kilogram melati per hari. Padahal dalam kondisi melimpah, dari satu hektar lahan bisa dihasilkan sekitar 50 kilogram hingga satu kwintal melati per hari.

Dariyah (50), petani melati di Desa Sidoharjo mengatakan, saat ini produksi melati memang sedang turun. Dari lahannya seluas setengah bau (sekitar 3.900 meter persegi), hanya dihasilkan 10 kilogram melati per hari. "Padahal biasanya bisa mencapai 20 hingga 30 kilogram per hari," ujarnya.

Itu pun untuk bisa menghasilkan melati, ia harus menyiram tanamannya setiap satu pekan sekali. Untuk itu, ia terpaksa menggunakan mesin pompa air untuk menyedot air sumur bor, dengan biaya bahan bakar Rp 50.000 sekali penyedotan.

Turunnya produksi melati, mengakibatkan harga komoditas tersebut naik. Menurut Mahfud, saat ini harga melati di tingkat penjualan ke pabrik teh naik dari sekitar Rp 16.000 menjadi Rp 20.000 per kilogram. Bahkan apabila pasokan melati sangat melimpah, harganya hanya Rp 12.000 per kilogram. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau