SLAWI, KOMPAS.com - Kemarau tidak hanya berdampak pada penurunan produksi pangan, tetapi juga penurunan produksi melati di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Saat ini, produksi melati di wilayah tersebut turun hingga 50 persen, bila dibandingkan kondisi normal.
Sentra tanaman melati di Kabupaten Tegal antara lain di Desa Sidoharjo, Kecamatan Surodadi, seperti terlihat Kamis (29/9/2011). Menurut Ketua Kelompok Tani Sekar Arum Puspa Jaya Desa Sidoharjo, Mahfud, luas lahan melati di Desa Sidoharjo sekitar 160 hektar.
"Sekarang produksi kurang, soalnya kalau tidak disiram tidak keluar bunga," ujarnya. Saat ini, rata-rata dari satu hektar lahan dihasilkan sekitar 20 hingga 25 kilogram melati per hari. Padahal dalam kondisi melimpah, dari satu hektar lahan bisa dihasilkan sekitar 50 kilogram hingga satu kwintal melati per hari.
Dariyah (50), petani melati di Desa Sidoharjo mengatakan, saat ini produksi melati memang sedang turun. Dari lahannya seluas setengah bau (sekitar 3.900 meter persegi), hanya dihasilkan 10 kilogram melati per hari. "Padahal biasanya bisa mencapai 20 hingga 30 kilogram per hari," ujarnya.
Itu pun untuk bisa menghasilkan melati, ia harus menyiram tanamannya setiap satu pekan sekali. Untuk itu, ia terpaksa menggunakan mesin pompa air untuk menyedot air sumur bor, dengan biaya bahan bakar Rp 50.000 sekali penyedotan.
Turunnya produksi melati, mengakibatkan harga komoditas tersebut naik. Menurut Mahfud, saat ini harga melati di tingkat penjualan ke pabrik teh naik dari sekitar Rp 16.000 menjadi Rp 20.000 per kilogram. Bahkan apabila pasokan melati sangat melimpah, harganya hanya Rp 12.000 per kilogram.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang