Penulis: Irma Tambunan
Siapa pun dapat melakukan sesuatu yang besar dengan memulainya dari hal-hal kecil. Itulah yang menjadi pegangan Valencia Mieke Randa dalam mengembangkan Blood for Life, komunitas dan media sosial yang diistilahkan sebagai ruang instalasi gawat darurat maya yang telah menyelamatkan ratusan nyawa.
Dalam media ini, www.Blood4LifeID.org, lalu lintas informasi mengenai orang yang membutuhkan darah atau mereka yang ingin menyumbangkan darahnya menjadi lebih tersimpul. Orang dapat memberi dan menerima bantuan tanpa melalui birokrasi melelahkan. Gratis pula. Siapa pun bisa bergabung, kecuali penebar hoax. Komunikasi bagi komunitas yang sama dibuka melalui Googlegroups, Facebook, dan Twitter.
Mieke melahirkan situs kemanusiaan ini pada 2009 atas sebuah pengalaman memprihatinkan. Ketika itu, dia mengantar ibunya yang sakit ginjal ke rumah sakit untuk cuci darah. Dia melihat ada dua ibu meninggal akibat kekurangan darah karena tidak ada pasokan. Kejadian itu menggores hatinya.
Ia lalu bergabung dengan komunitas bloger dan menuliskan pengalaman-pengalaman pasien rumah sakit dalam blog Sillystupidlife.com. Banyak teman yang bersimpati, tetapi keadaan itu makin merisaukan hatinya.
Kepada sang ibu, Mieke bercerita ingin berbuat sesuatu. ”Saya ingin membantu mereka, tetapi saya bukan orang hebat dan saya tidak punya apa-apa. Andaikan ada orang yang mau berbuat sesuatu, saya siap bergabung,” ujarnya.
Jawaban sang ibu sungguh tak terduga. ”Kenapa bukan kamu yang berbuat sesuatu itu? Sesuatu yang besar berawal dari hal kecil,” katanya mengenang ucapan ibunya.
Suatu ketika, dia bertemu seorang ibu muda yang mengidap tumor kandungan. Ibu muda itu harus secepatnya dioperasi dan membutuhkan darah jenis AB dengan rhesus negatif. Darah jenis ini tergolong langka.
Sekian lama operasi tertunda karena tidak ada sumbangan darah sampai ibu muda itu mengalami aanval. Mieke pun kalang kabut mengetahui keadaannya. Dalam kepanikan, tiba-tiba ia terpikir untuk menggalang bantuan melalui media sosial. Dalam suratnya, Mieke mengajak siapa pun yang memiliki jenis darah serupa agar tergugah untuk menyumbangkan darah.
Sungguh mukjizat, dalam dua hingga tiga jam saja, sekitar 20 orang sudah tiba di Rumah Sakit St Carolus, Jakarta, tempat si ibu muda dirawat. Mereka siap menyumbangkan darah.
”Saya tercengang dan ingin menangis, terharu melihat mereka datang. Saya merasa tak sendirian lagi,” katanya mengenang.
Semenjak itu, Mieke kian menyadari bahwa di luar sana masih begitu banyak orang yang ingin berbuat baik. Namun, mereka terbentur oleh ketiadaan informasi mengenai cara menyalurkannya.
Di sisi lain, ada begitu banyak orang yang membutuhkan bantuan, tetapi tidak tahu harus mendatangi siapa. Atas dasar itulah ia mengembangkan komunitas Bloodforlife yang kini beranggotakan lebih dari 4.000 orang.
Terpuruk
Mieke merasakan ”jatuh bangun” perasaan selama mengembangkan Bloodforlife. Namun, ia sempat merasa amat terpuruk pada 2010. Ketika itu, Mieke bekerja di sebuah perusahaan logistik. Pekerjaan baru tersebut membuat dia kian terbenam dalam kesibukan.
Suatu ketika, seseorang mengirim pesan, meminta bantuan darah bagi anggota keluarganya yang tengah dirawat. Saat itu Mieke sedang rapat. Jadilah pesan tersebut terpaksa diabaikannya.
Ia baru menanggapi si pengirim pesan beberapa jam setelah itu. ”Saat saya telepon orang tersebut, dia menjawab dengan nada marah. Dia bilang, saya terlambat, dan keluarganya telah meninggal.”
Waktu itu Mieke belum bisa memahami mengapa orang tersebut begitu sewot kepadanya.
Sampai pada Februari lalu, ibunya kembali dirawat di rumah sakit. Mieke belum juga sempat menjenguk sang bunda karena terlalu sibuk. ”Saya janji akan menengok Mama Senin sore. Rupanya Senin pagi, Mama sudah pergi...,” ujarnya.
Mieke merasa begitu terpukul dan menyesal karena tidak berada di samping sang ibu pada pengujung hidupnya. Saat itulah dia mulai memahami perasaan orang yang marah kepadanya karena terlambat memberikan perhatian.
Dari rentetan kejadian tersebut, Mieke lalu memutuskan keluar dari pekerjaannya dan mulai mencurahkan hampir seluruh waktunya guna melayani sesama melalui media Bloodforlife. Dia berkomitmen, tidak ada lagi kata terlambat untuk membantu orang.
Jadi, jika Anda mempunyai keluarga atau teman yang dalam keadaan kritis di rumah sakit sehingga membutuhkan darah, cobalah kunjungi situs ini. Tuliskan jenis darah yang dibutuhkan serta bagaimana kondisi pasien sehingga sangat membutuhkan darah. Jangan lupa mencantumkan nomor kontak Anda untuk dihubungi. Semoga Anda tidak akan lama menunggu pertolongan datang.
Menurut Mieke, sekarang sudah ada lima relawan yang bergantian merespons pesan yang masuk. Setiap ada permintaan donor darah, baik melalui situs, Facebook, Twitter, maupun milis, pesan tersebut akan langsung disebar.
Ada sejumlah pendonor yang selalu siaga dan ratusan lainnya datang silih berganti menyumbangkan darah. Bloodforlife terasa seperti ruang instalasi gawat darurat (IGD) maya di mana semua orang di dalamnya merasakan kepanikan serupa untuk berupaya menyelamatkan mereka yang meminta bantuan darah.
Maka, ketika bantuan telah tersalurkan dan pasien terkait berangsur pulih, semua orang pun terasa menangis bersama dalam haru.
Mieke, ibu tiga anak ini, tidak ingat lagi berapa banyak darah yang telah disumbangkan orang melalui bantuan media Bloodforlife. Namun, yang pasti, sudah lebih dari 3.000 tabung. Setiap kali ada acara donor darah bersama, banyak orang datang berpartisipasi. Contohnya pada Festival Media Sosial yang digelar di Plaza FX, Jakarta, 22-24 September lalu, Bloodforlife membuka ruang untuk siapa saja yang mau berdonor darah.
Selama pagi hingga siang hari itu ada lebih dari 60 pengunjung yang menyumbangkan darahnya. Seluruhnya langsung diberikan kepada Palang Merah Indonesia.
Kita mungkin menilai bahwa mendonorkan sedikit darah bukanlah pekerjaan besar. Namun, hal itu memberi dampak berarti bagi penyelamatan jiwa orang lain. Di luar sana masih banyak orang baik. Apakah Anda tergugah untuk berbuat sesuatu?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang