Uji Coba Akuatik Belum Jelas

Kompas.com - 01/10/2011, 03:07 WIB

Jakarta, Kompas - Uji coba venue (arena) akuatik untuk SEA Games XXVI/2011 di Jakabaring, Palembang, belum jelas kapan akan dilaksanakan. Hal itu disebabkan pembangunan arena akuatik belum selesai. Uji coba mutlak dilaksanakan supaya pemecahan rekor di arena akuatik diakui.

Sekjen PB PRSI Tonny P Sastramihardja, Jumat (30/9), mengungkapkan, molornya pembangunan arena akuatik menyebabkan uji coba arena akuatik dalam bentuk Kejuaraan Renang Yunior Asia di Palembang batal. Kejuaraan tersebut akhirnya diselenggarakan di kolam renang Senayan, Jakarta.

”Uji coba venue akuatik sudah kita tunda selama tiga bulan karena tidak yakin venue bisa selesai. Ternyata sampai sekarang pun belum selesai,” ujar Tonny.

Tonny mengatakan, uji coba arena wajib dilaksanakan agar rekor yang tercipta di arena akuatik diakui. Uji coba juga harus dihadiri oleh perwakilan Federasi Renang Internasional (FINA) dan Federasi Renang Asia (ASF).

Menurut Tonny, meskipun uji coba arena berupa Kejuaraan Renang Yunior Asia di Palembang batal dilaksanakan, uji coba arena akuatik di Palembang tetap dilaksanakan dengan melakukan simulasi yang diikuti atlet-atlet yunior. Simulasi dilakukan dua kali dengan diawasi perwakilan FINA dan ASF.

”Simulasi akan kami lakukan akhir Oktober. Semoga venue akuatik sudah selesai pada akhir Oktober sehingga bisa melakukan uji coba venue dengan menghadirkan perwakilan FINA dan ASF,” kata Tonny.

Mengenai pemasangan alat pencatat waktu, Tonny optimistis dapat mulai dipasang pada akhir pekan ini. Alat pencatat waktu tersebut sudah dalam perjalanan dari Singapura menuju Palembang.

”Alat pencatat waktu sudah siap digunakan tanggal 7 November karena membutuhkan waktu untuk instalasi. Kontraktor harus saling koordinasi agar pemasangan alat pencatat waktu bisa lancar,” tuturnya.

Menurut Tonny, kondisi kolam renang masih ada kebocoran sedikit, tetapi kebocoran tersebut dapat segera ditanggulangi.

Monitor arena

Secara terpisah, Hanny Surkhatty, Ketua Bidang Venue Deputi I Sport dan Venue Panitia Penyelenggara SEA Games Indonesia (Inasoc) Pusat, mengatakan, Inasoc Pusat terus mengawasi persiapan arena. Untuk arena di Palembang, ia mengaku mengalami keterlambatan dari sisi kemajuan pembangunan dan penyelesaian arena.

”Baskom atau kolam sempat terlambat datang. Saat ini memang sudah bisa dipakai, tetapi belum sempurna terpasang,” ujar Hanny.

Situasi terlambat, ujar Hanny, juga terjadi di Jawa Barat untuk arena dayung di Situ Cipule, Karawang. Untuk mengawasi penyelesaian penyiapan arena, mulai minggu depan Inasoc Pusat akan terus memantau dan mengawasi pembangunan arena.

”Minggu depan, tim dari bidang venue Inasoc Pusat akan memantau persiapan pembangunan di Palembang, juga Jakarta. Kami terus menargetkan venue selesai sebelum SEA Games. Venue juga harus memenuhi teknis pertandingan supaya rekor yang tercipta bisa tercatat,” ujar Hanny.

Selain itu, Inasoc Pusat juga berharap Pemprov Sumatera Selatan segera mengatasi masalah kabut asap yang saat ini mendera wilayah Sumsel. ”Kalau di saat SEA Games nanti ada kabut asap, pertandingan bisa terganggu. Penerbangan juga sudah pasti terganggu. Jadi, kami meminta Pemprov Sumatera Selatan untuk mengantisipasi kabut asap itu,” ujar Hanny. (WAD/HLN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau