Di pintu masuk lapangan sepak bola Stadion Cengkareng, Jakarta, terpasang banner
Stadion Cengkareng yang mereka sewa sejak tahun 1993 untuk tempat berlatih adalah salah satu dari sekian banyak stadion di Indonesia dengan fasilitas seadanya. Di lapangan tidak terhampar rumput hijau, melainkan hanya tanah kering berwarna coklat kemerahan. Saat cuaca panas dengan angin kencang seperti Rabu (28/9) siang lalu, lapangan menjadi sangat berdebu.
”Tapi, kalau hujan deras, kami tak bisa latihan karena lapangan banjir,” kata Sariman (69), yang mendirikan Garec’s pada tahun 1978.
Meski dengan fasilitas memprihatinkan, ada tiga nama lulusan SSB ini yang tergolong berprestasi. Mereka adalah Kartubi Darwis, pemain Barito Putra, serta dua pemain tim nasional di bawah usia 16 tahun (U-16), yaitu Hadi Wibowo dan Fahri Rasyid. Ketiganya menjadi kebanggaan Garec’s meski tingkat keberhasilannya tak seperti Bambang Pamungkas.
Selain stadion, para pemain Garec’s juga menggunakan lapangan di halaman stadion sebagai tempat berlatih. Kondisinya lebih buruk. Beberapa bagian lapangan tampak berbatu.
Sebelum menyewa Stadion Cengkareng untuk latihan Senin, Rabu, dan Jumat, Sariman bercerita, timnya berlatih di lapangan lain. Apa daya, lapangan itu kini menjelma menjadi mal di Daan Mogot. Ah, apa boleh buat.
Sariman mengakui, sekolah yang ia bina tidak pantas disebut SSB. Idealnya, menurut Sariman, SSB atau akademi seharusnya memiliki fasilitas lengkap, bukan hanya sebagai status.
”Dari awal, misi saya membentuk Garec’s adalah untuk menghindarkan anak-anak muda dari salah pergaulan, meski tentu saja ada keinginan menghasilkan pemain berprestasi,” kata Sariman.
Dengan misi itu pulalah, Sariman tak pernah protes ketika orangtua pemain tak bisa membayar iuran, meski hanya Rp 50.000 per bulan. Dari sekitar 200 anak yang berlatih di Garec’s, yang rutin membayar iuran hanya sekitar setengahnya. Itu pun tak semuanya membayar penuh. Akibatnya, pengelolaan keuangan dilakukan dengan sistem tambal sulam.
Saat harus mengikuti turnamen, kekurangan uang diambil dari simpanan biaya pendaftaran sebesar Rp 50.000 per anak ditambah iuran dari orangtua yang anaknya terpilih dalam tim. Lagi-lagi, tak semua orangtua sanggup urunan untuk menyewa bus Kopaja sebagai alat transportasi menuju tempat pertandingan dan makan.
Anak rakyat ingin berprestasi. Anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi juga banyak terdapat di Akademi Villa 2000. Ada orangtua yang berpenghidupan sebagai petugas keamanan, tukang cuci pakaian, sampai tukang ojek. Meski demikian, dalam keterbatasan itu, SSB yang memiliki 400 siswa dan 12 pelatih ini berhasil meluluskan 5 anak asuhnya ke Timnas U-19 yang kini sedang berlatih di Uruguay dan 5 orang di Timnas U-16.
Di bulu tangkis, banyak pemain lahir dari keterbatasan fasilitas yang dimiliki klub tempatnya berlatih. Sangkuriang Graha Sarana (SGS) di Bandung, misalnya. Meski menjadi salah satu nama besar klub bulu tangkis di negeri ini, mereka belum punya pusat latihan dengan fasilitas lengkap seperti beberapa klub lain.
Salah seorang pelatih SGS, Didit Suluh Putra, mengatakan, SGS baru memiliki tempat latihan yang terdiri dari dua hingga tiga lapangan. Bahkan, ada pula program latihan di bawah nama SGS yang diselenggarakan di tempat sewaan, seperti yang dilakukan Didit di Cimahi.
”Saya tetap punya cita-cita bisa membentuk bibit pemain bulu tangkis yang berkualitas meski dengan fasilitas terbatas. Tentu akan lebih baik kalau latihan bisa dilakukan di tempat yang fasilitasnya lengkap,” kata Didit.
Mantan pemain bulu tangkis Susi Susanti mengatakan, banyak faktor yang menjadi penentu apakah seseorang yang berlatih sejak kecil bisa menjadi atlet berprestasi atau tidak. ”Selain bakat dan motivasi yang kuat dari diri sendiri, banyak hal lain yang berpengaruh, seperti proses pembinaan, fasilitas latihan, lawan latih tanding, pertandingan, sampai pemenuhan gizi,” kata Susi.
Sementara, Wakil Ketua Komisi X DPR Utut Adianto berpendapat, sebuah sistem yang lemah seperti yang ada di dunia olahraga Indonesia terkadang memang memunculkan pemain bintang. Tetapi, kondisi ini tak bisa diharapkan selalu terjadi jika negara tidak memfasilitasi pilihan anak bangsanya.
”Negara bukannya tidak memerhatikan olahraga. Tetapi, apa yang mereka lakukan sifatnya tanggung. Misalnya, dalam membina olahraga berprestasi, semua cabang dibina. Padahal seharusnya bisa fokus pada cabang tertentu seperti bulu tangkis dan angkat besi di bawah 58 kilogram,” kata Utut.
Kelemahan lain, lanjut Utut adalah kesenjangan antara cetak biru dan pelaksanaan. Indonesia pernah memiliki program Garuda Emas, Indonesia Bangkit, dan sekarang Prima. Namun, pelaksanaannya tidak pernah maksimal.
Satu lagi yang tak kalah penting adalah faktor kepemimpinan. ”Indonesia, termasuk di bidang olahraga, butuh pemimpin yang kuat dengan visi, misi yang jelas dan tidak ragu-ragu dalam bersikap,” tegas Utut. Jadi, di mana posisi negara, ketika anak-anak bangsa ini menggeliat sendiri meraih prestasi?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang