JAKARTA, KOMPAS.com — Tenaga pelayaran andal yang masih duduk di sekolah pelayaran banyak yang dipesan oleh perusahaan pelayaran asing sejak masih bersekolah alias diijon. Dengan demikian, ketika lulus sekolah, mereka bisa langsung bekerja.
Kondisi ini menyebabkan tenaga pelayaran yang andal semakin tersedot keluar negeri, sementara Indonesia semakin kekurangan nakhoda.
Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengungkapkan hal itu di Jakarta, Senin (3/10/2011).
Menurut Bambang, para nakhoda dan calon nakhoda kerap sangat tertarik untuk berkarier di perusahaan pelayaran asing karena tergiur penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan bekerja di dalam negeri. Gaji nakhoda di luar negeri diberikan dalam basis nilai tukar dollar AS, yang jauh lebih menarik dibandingkan gaji di Indonesia.
"Atas dasar itu, dalam jangka menengah panjang, kami mempersiapkan instruktur baru yang andal dan memperbanyak sekolah pelayaran yang baik. Dengan langkah-langkah itu, pasokan jumlah pelaut dan nakhoda semakin besar," ujarnya.
Jumlah tenaga pelayaran yang andal menjadi hal yang serius di Indonesia karena kesimpulan penyebab kecelakaan di daerah perairan selama ini sebagian besar karena faktor kesalahan manusia.
Statistik menunjukkan, 78,4 persen dari jumlah kecelakaan di Indonesia antara tahun 1998 dan 2003 disebabkan kesalahan manusia, 9,69 persen akibat kesalahan teknis, 1,07 persen akibat cuaca, dan 10,75 persen akibat cuaca dan kesalahan teknis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang