Pertanian

Menteri Pertanian: Pemda Harus Beli Jagung Petani

Kompas.com - 03/10/2011, 19:45 WIB

MAROS, KOMPAS.com -  Menteri Pertanian Suswono mengimbau pemerintah daerah, untuk sigap membeli jagung petani pada masa panen raya. Hal ini disebabkan petani kerap kesulitan menjual hasil panen, di tengah stok yang berlimpah dan harga jatuh.

Suswono hadir dalam acara Open House 2011 Balai Penelitian Tanaman Serealia bertema Inovasi Teknologi Mendukung Swasembada Jagung dan Diversifikasi Pangan di Maros, Sulawesi Selatan, Senin (3/10/2011). Dia juga sempat bertemu dengan para petani jagung.

Para petani mengeluhkan beberapa hal kepada Suswono, seperti rendahnya harga jagung di musim panen raya, sulitnya menjual jagung, juga ketidaktahuan mereka untuk meminjam modal ke bank. Harga jagung di Sulsel dan Sulawesi Tengah saat ini berkisar Rp 1.000 Rp 2.500 per kilogram.

"Pemerintah daerah belilah jagung petani, toh tidak akan rugi. Di Sulsel saja saat ini ada resi gudang, seharusnya itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan petani," ujar Suswono.

Suswono juga mendorong petani yang kesulitan modal untuk memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pemerintah sudah menyiapkan dana Rp 20 triliun. "Kalau petani meminjam sampai Rp 20 juta tidak perlu ada agunan," katanya.

Uang yang dibutuhkan petani sejak masa tanam hingga panen setidaknya Rp 15 juta.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau