800 Orangutan Terancam Hilang Ingatan

Kompas.com - 03/10/2011, 20:37 WIB

SAMARINDA, KOMPAS.com — Sebanyak 800 ekor orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus mario) yang berada di kawasan konservasi terancam hilang ingatan akibat terlalu lama berada di dalam kandang.

"Selain ancaman perburuan, degradasi, dan fragmentasi kawasan, ancaman lainnya justru juga akibat masih banyaknya orangutan liar berada dalam kandang di pusat-pusat rehabilitasi dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini membuat orangutan rentan stres, bahkan hilang ingatan," kata dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda, Yaya Riyadin, di Samarinda, Senin (3/10/2011).

"Kondisi hilang ingatan tersebut menyebabkan orangutan itu secara fisik terlihat hidup, tetapi psikisnya sudah mati," katanya saat memberikan pemaparan kepada wartawan terkait ancaman terhadap kelestarian populasi dan habitat orangutan kalimantan.

Saat ini, kata Yaya Rayadin, terdapat 225 ekor orangutan berada di kawasan konservasi Samboja Lestari, Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebanyak 600 ekor di Arboretum Nyaru Menteng, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

"Orangutan tersebut sudah hampir sembilan tahun berada di dalam kandang sehingga saya khawatir jika terlalu lama dikandangkan akan membuat penurunan tingkat keliaran yang berimplikasi pada tingginya tingkat stres hingga hilangnya ingatan primata itu," kata Yaya Rayadin, yang mengaku telah melakukan penelitian selama 10 tahun terhadap habitat orangutan tersebut.

Namun, lanjut doktor ekologi dan konservasi satwa liar itu, melepasliarkan kembali orangutan juga dapat mengancam primata tercerdas setelah gorila dan simpanse itu.

"Banyak juga kasus orangutan liar yang terlalu lama hidup di dalam kandang dan setelah dilepasliarkan sebagian malah memakan buah beracun sehingga hal itu juga dapat mengancam populasinya," katanya.

"Sebagai salah satu upaya yang harus dilakukan yakni menyediakan kawasan pelepasliaran orangutan melalui pemberian restorasi ekosistem yang didukung kebijakan serius pemerintah, termasuk dari segi finansial serta kemudahan izin bagi restorasi ekosistem orangutan," ungkap Yaya Rayadin.

Selama ini, kata dia, kebijakan restorasi ekosistem diperlakukan sama dengan perusahaan eksploitasi sumber daya alam. "Mestinya, pemerintah memberlakukan kebijakan khusus terkait konservasi orangutan ini. Selama ini lembaga konservasi yang ingin melepasliarkan orangutan diposisikan seperti perusahaan yang akan melakukan eksploitasi," katanya.

"Mulai dari mekanisme yang rumit hingga biaya untuk mempereoleh restorasi HPH yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Jika tidak didukung anggaran, minimal upaya pelepasliaran itu dimudahkan dari segi perizinan," kata Yaya Rayadin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau