Tiga Ilmuwan Raih Nobel Kedokteran

Kompas.com - 03/10/2011, 21:15 WIB

Kompas.com - Tiga orang ilmuwan berbagi Nobel bidang kedokteran tahun 2011 untuk temuan mereka dalam bidang sistem imun tubuh yang oleh para juri dianggap membuka cakralawa baru dalam melawan kanker dan penyakit lain.

Para ilmuwan tersebut adalah Bruce Beutler dari Amerika Serikat, Jules Hoffman ilmuwan kelahiran Luxemburgh yang berkewarganegaraan Perancis dan Ralph Steinman dari Kanada.

"Para pemenang Nobel kedokteran tahun ini mengubah pandangan kita mengenai sistem imun secara revolusioner dengan menemukan prinsip utama untuk pengaktifannya," kata juri dalam pernyataannya.

Ketiga ilmuwan tersebut dikenal akan kerja keras mereka dalam memahami sistem kekebalan tubuh yang kompleks, terutama dalam molekul yang memberi sinyal untuk melepaskan antibodi dan membunuh sel sebagai respon untuk melawan mikroba.

Pemahaman akan mekanisme tersebut akan membuka pintu pada obat-obatan baru sekaligus menguasai penyakit autoimun seperti asma, artritis rematoid dan penyakit Crohns yang terjadi karena sistem imun tubuh secara misterius menyerang tubuh.

"Hasil kerja para ilmuwan ini telah membuka kesempatan pengembangan pencegahan dan terapi melawan infeksi, kanker, dan penyakit inflamasi," kata juri.

Metode untuk pencegahan dan pengobatan penyakit-penyakit juga dimungkinkan dengan penyempurnaan vaksin dalam melawan infeksi dan menstimulasi sistem imun untuk menyerang sel tumor.

Para juri juga mengatakan penemuan para ilmuwan itu membantu memahami mengapa sampai terjadi antibodi menyerang jaringan tubuh, dan juga membuka celah pada pengobatan penyakit inflamasi.

Beutler (55) dan Hoffmann (70) akan berbagai satu setengah bagian dari hadiah Nobel senilai 1,48 juta dolar Amerika. Keduanya menemukan protein reseptor yang mengaktifkan langkah pertama dalam sistem kekebalan tubuh.

Sejak tahun 1996 Hoffmann bekerja di laboratorium riset di Strasbourg untuk meneliti bagaimana lalat buah melawan infeksi dan menunjujkkan gen yang disebut Toll, yang diketahui terlibat dalam perkembangan embrional dan membantu mengenali mikroorganisme berbahaya dan melawannya.

Beutler melebarkan fokus risetnya di tahun 1998 ketika ia masih di Universitar Texas menemukan bahwa reseptor Toll yang disebut LPS juga bekerja dalam cara yang sama pada mencit. Hal itu sekaligus membuktikan mamalia dan lalat buah memiliki pathaway imun yang sama.

Sementara itu Steinman (68) memenangkan setengah dari hadiah Nobel kedokteran ini berkat risetnya yang menunjukkan respon adaptive. Pada tahun 1973 ia menemukan jenis sel baru yakni sel dendrit dan menunjukkan perannya dalam melepaskan sel T, pembunuh dalam sistem imun.

Sel T juga bagian dari memori imunologikal, yang memobilisasi kekuatan dan kecepatan dalam pertahanan tubuh ketika sel mikroorganisme yang sama menyerang kembali.

Steinman yang juga meraih Lasker Prize tahun 2007 menunjukkan sistem imun tubuh mampu melawan mikroorganisme berbahaya dengan cara membersihkan molekul tubuhnya sendiri.

Setiap tahun, awal Oktober merupakan masa pengumuman para pemenang hadiah Nobel yang biasanya diawali dengan pengumuman pemenang bidang kedokteran.

Ketiga ilmuwan ini akan menerima hadiah mereka dalam upacara formal di Stockholm pada tanggal 10 Desember, yang merupakan hari lahir pendiri yayasan Nobel, Afred Nobel yang meninggal di tahun 1896.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau