Indikator

Inflasi September Mencapai 0,27 Persen

Kompas.com - 04/10/2011, 05:06 WIB

Jakarta, Kompas - Inflasi bulan September sebesar 0,27 persen. Beras dan cabai menjadi pendorong inflasi bulan lalu. Sementara laju inflasi umum tahunan September 2011 terhadap September 2010 adalah 4,61 persen.

Demikian paparan yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta, Senin (3/10).

Secara kumulatif, laju inflasi umum tahun kalender (Januari-September 2011) sebesar 2,97 persen. Dengan kondisi ini, BPS optimistis inflasi umum sepanjang tahun 2011 bisa di bawah 5 persen atau di bawah asumsi APBN-Perubahan tahun ini sebesar 5,65 persen.

Beberapa komponen pemicu inflasi umum adalah beras yang memberi andil inflasi 0,08 persen terhadap total inflasi, sedangkan cabai merah yang mulai mengalami kenaikan harga menyumbang inflasi 0,08 persen.

Meskipun harga beras naik, sejumlah komponen bahan makanan lain menyumbang deflasi, antara lain daging ayam -0,1 persen, telur ayam -0,04 persen, ikan segar -0,02 persen, bawang merah -0,02 persen, dan bawang putih -0,02 persen.

Dari tujuh kelompok penggolongan barang, hanya kelompok bahan makanan yang menyumbang deflasi, yakni -0,09 persen.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan, penurunan inflasi dipicu oleh menurunnya harga komoditas pasca-Lebaran serta mengalirnya barang impor yang harganya cenderung lebih murah karena kurs nilai tukar rupiah masih kuat terhadap dollar AS.

Inflasi umum itu lebih rendah dibandingkan dengan inflasi komponen inti September 2011, yakni sebesar 0,39 persen. Dalam dua bulan terakhir, inflasi inti tercatat lebih tinggi daripada inflasi umum. Laju inflasi inti tahunan (year on year/yoy) terhadap September 2010 adalah 4,93 persen, dengan laju inflasi inti tahun kalender (Januari-September 2011), yakni 3,85 persen.

Kepala Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa Badan Pusat Statistik Djamal mengemukakan, kenaikan inflasi inti itu, antara lain, dipicu oleh harga emas perhiasan dan tarif angkutan udara.

Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika menilai, untuk menjaga inflasi di bawah 5 persen, diperlukan beberapa langkah, seperti pengendalian harga beras dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. (LKT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau