Jakarta, Kompas
Demikian paparan yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta, Senin (3/10).
Secara kumulatif, laju inflasi umum tahun kalender (Januari-September 2011) sebesar 2,97 persen. Dengan kondisi ini, BPS optimistis inflasi umum sepanjang tahun 2011 bisa di bawah 5 persen atau di bawah asumsi APBN-Perubahan tahun ini sebesar 5,65 persen.
Beberapa komponen pemicu inflasi umum adalah beras yang memberi andil inflasi 0,08 persen terhadap total inflasi, sedangkan cabai merah yang mulai mengalami kenaikan harga menyumbang inflasi 0,08 persen.
Meskipun harga beras naik, sejumlah komponen bahan makanan lain menyumbang deflasi, antara lain daging ayam -0,1 persen, telur ayam -0,04 persen, ikan segar -0,02 persen, bawang merah -0,02 persen, dan bawang putih -0,02 persen.
Dari tujuh kelompok penggolongan barang, hanya kelompok bahan makanan yang menyumbang deflasi, yakni -0,09 persen.
Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Rusman Heriawan, penurunan inflasi dipicu oleh menurunnya harga komoditas pasca-Lebaran serta mengalirnya barang impor yang harganya cenderung lebih murah karena kurs nilai tukar rupiah masih kuat terhadap dollar AS.
Inflasi umum itu lebih rendah dibandingkan dengan inflasi komponen inti September 2011, yakni sebesar 0,39 persen. Dalam dua bulan terakhir, inflasi inti tercatat lebih tinggi daripada inflasi umum. Laju inflasi inti tahunan (year on year/yoy) terhadap September 2010 adalah 4,93 persen, dengan laju inflasi inti tahun kalender (Januari-September 2011), yakni 3,85 persen.
Kepala Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa Badan Pusat Statistik Djamal mengemukakan, kenaikan inflasi inti itu, antara lain, dipicu oleh harga emas perhiasan dan tarif angkutan udara.
Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika menilai, untuk menjaga inflasi di bawah 5 persen, diperlukan beberapa langkah, seperti pengendalian harga beras dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.