Perekonomian

Indonesia Bisa Melambat Menjadi 4,1 Persen

Kompas.com - 04/10/2011, 20:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melambat hingga mencapai titik terendah di sekitar 4,1 persen, pada tahun 2012 jika krisis ekonomi di dunia semakin buruk hingga memasuki skenario terparah.

Skenario paling pesimis ini bisa terjadi, jika krisis ekonomi tidak hanya terjadi di daratan Eropa dan Amerika Serikat, tetapi juga terjadi pada dua mesin ekonomi utama di Asia yakni China dan India.

"Kami memperhitungkan skenario ini dengan menggabungkan antara skenario (krisis) eksternal, dengan perlambatan pendorong ekonomi domestic seperti konsumsi dan investasi," ujar Kepala Ekonomi Bank Dunia untuk Indonesia, Shubham Chaudhuri, di Jakarta, Selasa (4/10/2011).

Subham berbicara dalam Presentasi dan Diskusi Perkembangan Triwulan Perekonomian Indonesia oleh Bank Dunia, Bank Danamon, dan Bank Mandiri.

Sebelumnya, Subham memperhitungkan bahwa ada tiga skenario yang bisa terjadi terkait kekisruhan utang di Eropa dan Amerika saat ini.

Skenario pertama, diasumsikan gejolak di pasar modal dan keuangan dunia terus berlanjut, sehingga terjadi pertumbuhan di zona Eropa dan melemahnya perekonomian di Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, harga komoditas turun sedikit dan pasar keuangan terus bergejolak, sehingga menyebabkan pelarian modal dari negara berkembang.

Pada skenario pertama ini, potensi dampak yang bisa dialami Indonesia adalah terbatas hanya melalui jalur perdagangan, namun Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tidak akan banyak terpengaruh karena perekonomiannya tidak tergantung pada ekspor.

Adapun gejolak akibat gejolak di pasar keuangan, akan dapat diantisipasi oleh pengalaman Indonesia pada krisis tahun 2008.

Skenario kedua, diasumsikan krisis keuangan semakin membesar. Pada kondisi ini terjadi pengetatan kredit ke sektor riil, sehingga perekonomian jauh melambat, penyelesaian utang di Eropa kacau, pasar kredit membeku, dan terjadi pelarian luar biasa dari aset-aset di pasar berkembang.

Akibatnya ke Indonesia, antara lain pasar modal domestik akan tergerus oleh pembatasan akses ke pembiayaan internasional, saham banyak dijual, nilai tukar akan tertekan.

Skenario ketiga, pertumbuhan ekonomi lebih lambat dari skenario kedua, akibat menurunnya permintaan dunia terhadap produk-produk negara berkembang, harga komoditas menuju penurunan semakin dalam.

Akibatnya kepada Indonesia adalah dua jalur krisis akan terpengaruh sekaligus, di jalur perdagangan dan keuangan.

Skenario ketiga adalah skenario terburuk yang diperkirakan akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi di negara-negara mitra dagang Indonesia menurun minus 1,8 persen pada tahun 2012, dan pertumbuhan perdagangan Indonesia minus 30 persen.

Itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan akan drop ke level 4,1 persen, jauh di bawah harapan pemerintah yang menargetkan 6,7 persen.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau