Sumber energi

Kalimantan Paling Cocok untuk PLTN

Kompas.com - 05/10/2011, 05:04 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS - Kondisi Pulau Kalimantan yang bebas bencana gempa bumi memungkinkan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir. Apalagi selama ini Kalimantan dikenal sebagai penghasil sumber energi, termasuk uranium, yang menjadi bahan bakar PLTN.

M Syamsa Ardisasmita, Deputi Menteri Bidang Jaringan Iptek Kementerian Riset dan Teknologi, di sela-sela ”Sosialisasi Energi Nuklir”, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), Jumat (4/10), mengatakan, ”Kita belajar dari kecelakaan nuklir di Fukushima (Jepang) bahwa yang paling aman untuk pembangunan reaktor itu ada di daerah bebas gempa. Indonesia ring of fire, ada banyak gunung berapi di selatan Jawa dan barat Sumatera. Yang paling bebas gempa adalah Kalimantan,” ujar Syamsa.

Namun, Syamsa belum bisa memastikan kapan bisa didirikan PLTN di Kalimantan. Sejauh ini baru dua lokasi di Indonesia yang menjadi tempat studi kelayakan, yakni Jepara, Jateng, dan Bangka Belitung. Di Jepara, pembangunan mendapatkan penolakan dari masyarakat yang tidak setuju terhadap PLTN.

Menurut Syamsa, yang cocok untuk pendirian PLTN ada di wilayah Kalsel. Ini didasarkan pada letak Kalsel yang berdekatan dengan Pulau Jawa. Selama ini Jawa dikenal sebagai daerah yang membutuhkan energi besar.

Sementara itu, Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional Taswanda Taryo mengatakan, PLTN diharapkan sudah terbangun tahun 2020. Selain sesuai amanat UU No 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005-2025, pembangunan PLTN menjadi kebutuhan bagi pemenuhan sumber energi listrik yang pada 2020 akan meningkat dua kali lipat dari saat ini. Taswanda seusai pembukaan ”International Conference and Exhibition on Sustainable Energy and Advanced Material” di Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Selasa kemarin, menjelaskan ia yakin tahun 2020 kita sudah punya PLTN karena menurut UU No 17/2007, paling lambat tahun 2019 sudah dibangun PLTN,” kata Taswanda. (WER/EKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau