BANJARMASIN, KOMPAS -
M Syamsa Ardisasmita, Deputi Menteri Bidang Jaringan Iptek Kementerian Riset dan Teknologi, di sela-sela ”Sosialisasi Energi Nuklir”, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), Jumat (4/10), mengatakan, ”Kita belajar dari kecelakaan nuklir di Fukushima (Jepang) bahwa yang paling aman untuk pembangunan reaktor itu ada di daerah bebas gempa.
Namun, Syamsa belum bisa memastikan kapan bisa didirikan PLTN di Kalimantan. Sejauh ini baru dua lokasi di Indonesia yang menjadi tempat studi kelayakan, yakni Jepara, Jateng, dan Bangka Belitung. Di Jepara, pembangunan mendapatkan penolakan dari masyarakat yang tidak setuju terhadap PLTN.
Menurut Syamsa, yang cocok untuk pendirian PLTN ada di wilayah Kalsel. Ini didasarkan pada letak Kalsel yang berdekatan dengan Pulau Jawa. Selama ini Jawa dikenal sebagai daerah yang membutuhkan energi besar.
Sementara itu, Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional Taswanda Taryo mengatakan, PLTN diharapkan sudah terbangun tahun 2020. Selain sesuai amanat UU No 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005-2025, pembangunan PLTN menjadi kebutuhan bagi pemenuhan sumber energi listrik yang pada 2020 akan meningkat dua kali lipat dari saat ini. Taswanda seusai pembukaan ”International Conference and Exhibition on Sustainable Energy and Advanced Material” di Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Selasa kemarin, menjelaskan ia yakin tahun 2020 kita sudah punya PLTN karena menurut UU No 17/2007, paling lambat tahun 2019 sudah dibangun PLTN,” kata Taswanda.