JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi menilai alasan kinerja yang dijadikan sebagai dalih agar perombakan kabinet dilakukan hanya isapan jempol belaka. Menurut Burhanuddin, perombakan kabinet atau reshuffle kali ini lebih pada reshuffle politik daripada kinerja karena beberapa menteri yang dinilai memiliki performa kurang masih tetap dipertahankan dalam kabinet.
"Banyak menteri yang kinerjanya kurang, tetapi masih tetap dipertahankan di Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II), hanya karena memiliki posisi sebagai ketua umum partai yang selama ini loyal kepada SBY. Ini yang saya katakan, faktor politik lebih dominan daripada faktor kinerja. Ini reshuffle setengah hati kalau bisa dibilang," ujar Burhanuddin kepada wartawan di Gedung Jakarta Media Center, Jakarta, Rabu (5/10/2011).
Burhanuddin juga mengatakan, Presiden memiliki modal besar untuk menyusun desain kabinetnya dengan berisikan menteri-menteri berperforma baik. Hal itu dapat dilihat ketika Presiden mendapatkan modal suara besar dalam pemilihan presiden, dan Partai Demokrat memenangi Pemilu 2004.
"Akan tetapi, Presiden dengan penuh percaya diri malah membentuk kabinet politik, yakni 19 dari 34 menteri berasal dari parpol. Hal itu juga menunjukkan bahwa dia tidak percaya diri untuk membentuk kabinet asli. Padahal, dia memiliki modal sosial politik yang nyaris sempurna untuk membentuk itu semua," kata Burhanuddin.
Oleh karena itu, lanjut Burhanuddin, sangat sulit jika mengharapkan Presiden mempunyai keberanian besar untuk merombak menteri-menteri dari parpol meskipun peformanya kurang. Bahkan, Burhanuddin menilai, saat ini Presiden telah tersandera oleh kabinet yang dibentuknya sendiri karena jika Presiden membongkar semua menteri di KIB II, sudah pasti langkah itu akan mendapat perlawanan dari parlemen.
"Namun jika misalnya dipertahankan, hal itu akan tetap terus menciptakan popularitas dan tingkat kepercayaan yang semakin menurun terhadap pemerintahan SBY. Jadi menurut saya, kalau SBY ingin membentuk kabinet yang dikenang oleh masyarakat, bongkar habis-habisan. Akan tetapi pertanyaannya, apa Presiden SBY berani?" kata Burhanuddin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang