Yuk, Berwisata Kuliner! Ini Panduannya...

Kompas.com - 05/10/2011, 16:52 WIB

KOMPAS.com - Perjalanan wisata tak lagi identik dengan berkunjung ke objek wisata di suatu tempat, berbelanja barang khas daerah tersebut, lalu pulang kembali ke kota asal. Anda juga harus menikmati sajian kuliner lokal khas daerah tersebut sebagai suatu alternatif wisata. Rasanya belum lengkap wisata Anda ke suatu tempat tanpa mencicipi makanan lokalnya.

Tetapi mencoba makanan khas suatu daerah tak semudah yang terlihat, terutama di daerah yang menjadi tujuan banyak wisatawan. Tentunya banyak toko yang menawarkan makanan yang mereka klaim sebagai makanan khas. Padahal ada beberapa makanan lokal yang memang sejak awal dikenal sebagai ciri khas suatu daerah.

Sebelum mengunjungi suatu daerah, Anda bisa mencari informasi tentang kuliner khas daerah tersebut. Sehingga saat tiba di tempat, Anda sudah mempunyai rekomendasi untuk wisata kuliner dan di mana tempat Anda bisa menikmati makanan lokal tersebut.

Anda juga bisa berusaha mencari tahu di mana Anda bisa mendapatkan makanan lokal dengan bertanya pada masyarakat setempat. Biasanya mereka akan menjawab secara jujur di mana kita bisa menemukan makanan khas yang ‘otentik’ dan memang mereka anggap enak.

Cara kreatif lainnya adalah Anda bisa bertanya kepada penduduk setempat di mana ia biasa makan. Coba kunjungi tempat makan tersebut. Lebih seru jika Anda makan di sana bersama dengan orang yang merekomendasikan tempat tersebut.

Selain Anda bisa menikmati kuliner khas daerah tersebut, Anda juga bisa merasakan sendiri sosialisasi di tempat makan tersebut. Anda pun mendapatkan pengalaman lebih.

Anda harus mencoba untuk menikmati makanan lokal di tempat pembuatannya langsung. Hal ini akan menjadi pengalaman berbeda dibanding membali makanan lokal di sekitar hotel ataupun di area yang sudah banyak dikunjungi turis.

Anda bisa melihat cara pembuatan langsung dan menikmati makanan khas di tempat. Biasanya, harga yang ditawarkan di tempat pembuatan pun akan lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di toko oleh-oleh.

Tak selamanya makanan lokal suatu daerah cocok dengan lidah Anda, padahal sungguh disayangkan jika Anda tak bisa mencicipi makanan tersebut. Coba trik ini, Anda harus menikmati makanan khas saat perut sedang sangat lapar. Jadi mau tidak mau, Anda akan tetap menikmati makanan lokal tersebut.

Jika Anda berwisata kuliner di luar negeri, kadangkala bahan makanan yang kita biasa makan mungkin diolah sebagai makanan khas dengan cara olah dan bumbu berbeda. Belum tentu itu cocok dengan selera Anda.

Jadi berhati-hatilah dalam memilih makanan, cobalah makanan lokal yang memang bisa Anda nikmati. Kalau Anda merasa tidak cocok dengan sajian lokal, jangan secara terang-terangan memberi komentar tidak enak. Itu bisa menjadi masalah sensitif jika terdengar oleh orang lokal.

Jika ditanya mengapa tidak menghabiskan makanan tertentu, Anda bisa menjawab bahwa cara mengolah makanan sangat berbeda dengan yang biasa dilakukan di daerah asal Anda.

Tetapi bebaskan pikiran Anda, makanan khas setempat belum tentu tidak enak. Bisa jadi karena Anda tidak terbiasa dengan rasanya. Coba nikmati saja, makan sesuap demi sesuap sambil melihat-lihat suasana sekitar atau sambil mengobrol juga bisa mengalihkan pikiran Anda.

Satu lagi hal penting yang perlu Anda ingat, cobalah berwisata kuliner dengan sehat. Jika Anda memiliki penyakit dengan pantangan makan tertentu, jangan memaksakan diri untuk tetap mencicipi makanan lokal. Selamat berwisata kuliner!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau