MEDAN, KOMPAS.com — Ny Stephana (69) menangis tersedu-sedu ketika Plt Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho memberikan santunan dari PT Jasa Raharja Rp 50 juta kepada dirinya, Rabu (5/10/2011).
Santunan diberikan atas kematian suaminya, Nico Matulessy, mekanik pesawat CASA 212 PT Nusantara Buana Air yang jatuh di Perbukitan Hulusekelem, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara Kamis (29/9/2011) lalu.
Bersama Stephana, diberikan pula santunan serupa kepada keluarga dari korban CASA 212, yakni Aisyah yang diterima anak korban M Yusuf, Jefridin yang diterima ibu korban Aziar, Siwa Sanbungan, yang diterima istri korban, Gita Rani. Sementara keluarga Tirnau Karsu tidak hadir karena tengah melakukan doa bagi korban.
Stephana mengatakan pada nisan Nico Matulessy, keluarga menulis korban meninggal pada 30 September, bukan pada 29 September. Sebab, keluarga yakin korban masih hidup pada tanggal 29 September. "Kami berterima kasih," kata Stephana, tetapi tidak bisa meneruskan kalimatnya karena terus menangis.
Muhammad Yusuf (48), anak korban Aisyah, mengatakan, keluarga iklas akan kematian korban jika korban benar-benar meninggal begitu peristiwa kecelakaan terjadi. "Namun, yang masih mengganjal bagi kami adalah mamak masih hidup ketika kecelakaan terjadi. Betapa menderitanya dia," kata Yusuf. Ia masih menyesalkan informasi kematian baru diterima keluarga pada hari Sabtu. "Semestinya informasi itu bisa cepat kami terima," ujarnya.
Direktur Operasional Jasa Raharja Budi Setyarso mengatakan, pembayaran santunan dilaksanakan Rabu ini berdasarkan domisili ahli waris korban. Di Kutacane dilakukan penyerahan santunan pada 10 keluarga korban, di Medan lima keluarga korban, di DKI Jakarta satu keluarga korban, di Banten satu keluarga korban, dan di Jawa Timur satu keluarga korban.
Semua korban mendapat santunan dari PT Jasa Raharja masing-masing Rp 50 juta. Budi mengatakan, santunan diberikan kepada korban maksimal 3 hari setelah kecelakaan terjadi.
Pada saat yang sama, Gubernur Sumatera Utara juga menyerahkan penghargaan berupa piagam dan wings kepada 27 anggota tim evakuasi yang diwakili Serda Dian Iriansyah dari Pasukan Khas TNI AU, Briptu Nasrulsyah dari Brimob Polda Sumut, Sertu Budi K dari Batalyon Raider TNI AD, dan Torang Hutaeyan dari Basarnas.
Gubernur meminta permakluman keluarga mengingat pesawat jatuh di tempat yang sulit dijangkau. "Jika penanganannya terlambat mohon dimaklumi," ujarnya. Seluruh aspek telah bergerak di hari pertama kecelakaan, tetapi karena iklim dan cuaca evakuasi terhambat.
"Atas nama pemerintah provinsi kami mengucapkan belasungkawa yang sedalamnya," kata Gatot. Peristiwa ini, kata Gatot, juga menjadi refleksi agar Badan Penanggulangan Bencana lebih sigap lagi dalam melayani publik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang