TEGAL, KOMPAS.com - Rencana pengembangan Pelabuhan Kota Tegal di Kota Tegal, Jawa Tengah sebagai pelabuhan niaga mulai direalisasikan awal Oktober ini. Saat ini, proses pembangunan yang sedang berlangsung, yaitu berupa pembangunan groin atau bangunan penahan gelombang, sepanjang 70 meter.
Kepala Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Tegal, Benny Noviandinudin, Rabu (5/10/2011) mengatakan, saat ini mulai dibangun groin atau penahan gelombang sepanjang 70 meter, dan juga pembangunan direksi kit (bangunan untuk aktivitas proyek).
Groin tersebut, lanjutnya, akan menggunakan tiang pancang, dengan panjang atau ketinggian dari dasar hingga atas sekitar 25 meter. Bangunan penahan gelombang tersebut menggunakan anggaran sebesar Rp 6,3 miliar dari pemerintah pusat, dan ditargetkan selesai akhir tahun ini. Saat ini proses pembangunan sudah mencapai tiga persen, katanya.
Menurut dia, pembangunan pelabuhan niaga secara keseluruhan diharapkan selesai dalam waktu lima tahun. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan proses pembangunan bisa lebih cepat , apabila ada investor yang ikut membiayai proyek tersebut.
Pada 2012, proses pembangunan pelabuhan niaga akan dilanjutkan dengan penyelesaian bangunan penahan gelombang, sepanjang 258 meter. Setelah itu, pada tahun-tahun berikutnya akan dil anjutkan dengan pengerukan kolam pelabuhan sedalam enam meter, serta pembangunan dermaga.
Rencananya, panjang dermaga yang dibangun mencapai panjang 385 meter, dengan lebar (menjorok ke arah laut) sekitar 100 meter. Dengan pengembangan pelabuhan niaga, diharapkan kapal-kapal besar dengan bobot 5.000 gross tone bisa masuk ke Pelabuhan Tegal.
Sebenarnya, lanjut Benny, selama ini Pelabuhan Tegal juga sudah digunakan untuk lalu lintas barang. Namun, maksimal bobot kapal yang bisa masuk ke pelabuhan hanya sekitar 500 hingga 700 gross tone . Hal itu karena kedalaman kolam pelabuhan hanya sekitar empat meter.
Kapal-kapal itu merupakan kapal layar motor (KLM), yang mengangkut kayu kebun dari Kalimantan, dan pulangnya membawa sembako dari Tegal ke kalimantan. Rata-rata ada tiga KLM yang masuk per bulan, ujarnya.
Ia menambahkan, secara keseluruhan, saat ini rata-rata lalu lintas kapal di Pelabuhan Tegal sekitar 200 unit per bulan, terdiri kapal nelayan, kapal layar motor (KLM), dan kargo. Kebanyakan kapal kargo masuk ke Tegal untuk tujuan perbaikan.
Serap Tenaga
Wakil Wali Kota Tegal, Habib Ali Zaenal Abidin mengatakan, dengan adanya pelabuhan niaga di Kota Tegal, diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Hal itu karena aktivitas ekonomi di Pelabuhan ak an semakin ramai, seiring dengan meningkatnya lalu lintas kapal angkutan barang ke Tegal.
Diharapkan, keberadaan pelabuhan niaga di Pelabuhan Kota Tegal nantinya, akan dimanfaatkan oleh masyarakat di daerah-daerah di sekitar Tegal, antara lain Pemalang, Brebes, hingga Banyumas. Mereka akan memanfaatkannya untuk lalu lintas angkutan barang ke luar Pulau Jawa.
Sekretaris Pokja Pengembangan Pelabuhan Tegal, Khairul Huda menambahkan, keberadaan pelabuhan niaga juga untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di darat. Selain itu, juga untuk mengembalikan kejayaan Pelabuhan Tegal, yang pada sekitar tahun 1980 hingga 1990-an telah berkembang sebagai lalu lintas angkutan kayu dan hasil pertanian.
Pengembangan Pelabuhan Tegal menjadi pelabuhan niaga, diharapkan bisa menjadi alternatif angkutan pengiriman barang ke Semarang. Kami ingin menghidupkan kembali, sehingga komoditas-komoditas yang sebelumnya lewat Semarang (Pelabuhan Tanjung Mas), bisa dialihkan ke Tegal, ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang