Infrastruktur

Pelabuhan Niaga di Tegal Mulai Dibangun

Kompas.com - 05/10/2011, 21:20 WIB

TEGAL, KOMPAS.com - Rencana pengembangan Pelabuhan Kota Tegal di Kota Tegal, Jawa Tengah sebagai pelabuhan niaga mulai direalisasikan awal Oktober ini. Saat ini, proses pembangunan yang sedang berlangsung, yaitu berupa pembangunan groin atau bangunan penahan gelombang, sepanjang 70 meter.

Kepala Kantor Administrator Pelabuhan (Adpel) Tegal, Benny Noviandinudin, Rabu (5/10/2011) mengatakan, saat ini mulai dibangun groin atau penahan gelombang sepanjang 70 meter, dan juga pembangunan direksi kit (bangunan untuk aktivitas proyek).

Groin tersebut, lanjutnya, akan menggunakan tiang pancang, dengan panjang atau ketinggian dari dasar hingga atas sekitar 25 meter. Bangunan penahan gelombang tersebut menggunakan anggaran sebesar Rp 6,3 miliar dari pemerintah pusat, dan ditargetkan selesai akhir tahun ini. Saat ini proses pembangunan sudah mencapai tiga persen, katanya.

Menurut dia, pembangunan pelabuhan niaga secara keseluruhan diharapkan selesai dalam waktu lima tahun. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan proses pembangunan bisa lebih cepat , apabila ada investor yang ikut membiayai proyek tersebut.

Pada 2012, proses pembangunan pelabuhan niaga akan dilanjutkan dengan penyelesaian bangunan penahan gelombang, sepanjang 258 meter. Setelah itu, pada tahun-tahun berikutnya akan dil anjutkan dengan pengerukan kolam pelabuhan sedalam enam meter, serta pembangunan dermaga.

Rencananya, panjang dermaga yang dibangun mencapai panjang 385 meter, dengan lebar (menjorok ke arah laut) sekitar 100 meter. Dengan pengembangan pelabuhan niaga, diharapkan kapal-kapal besar dengan bobot 5.000 gross tone bisa masuk ke Pelabuhan Tegal.

Sebenarnya, lanjut Benny, selama ini Pelabuhan Tegal juga sudah digunakan untuk lalu lintas barang. Namun, maksimal bobot kapal yang bisa masuk ke pelabuhan hanya sekitar 500 hingga 700 gross tone . Hal itu karena kedalaman kolam pelabuhan hanya sekitar empat meter.

Kapal-kapal itu merupakan kapal layar motor (KLM), yang mengangkut kayu kebun dari Kalimantan, dan pulangnya membawa sembako dari Tegal ke kalimantan. Rata-rata ada tiga KLM yang masuk per bulan, ujarnya.

Ia menambahkan, secara keseluruhan, saat ini rata-rata lalu lintas kapal di Pelabuhan Tegal sekitar 200 unit per bulan, terdiri kapal nelayan, kapal layar motor (KLM), dan kargo. Kebanyakan kapal kargo masuk ke Tegal untuk tujuan perbaikan.  

 

Serap Tenaga

Wakil Wali Kota Tegal, Habib Ali Zaenal Abidin mengatakan, dengan adanya pelabuhan niaga di Kota Tegal, diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Hal itu karena aktivitas ekonomi di Pelabuhan ak an semakin ramai, seiring dengan meningkatnya lalu lintas kapal angkutan barang ke Tegal.

Diharapkan, keberadaan pelabuhan niaga di Pelabuhan Kota Tegal nantinya, akan dimanfaatkan oleh masyarakat di daerah-daerah di sekitar Tegal, antara lain Pemalang, Brebes, hingga Banyumas. Mereka akan memanfaatkannya untuk lalu lintas angkutan barang ke luar Pulau Jawa.

Sekretaris Pokja Pengembangan Pelabuhan Tegal, Khairul Huda menambahkan, keberadaan pelabuhan niaga juga untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di darat. Selain itu, juga untuk mengembalikan kejayaan Pelabuhan Tegal, yang pada sekitar tahun 1980 hingga 1990-an telah berkembang sebagai lalu lintas angkutan kayu dan hasil pertanian.

Pengembangan Pelabuhan Tegal menjadi pelabuhan niaga, diharapkan bisa menjadi alternatif angkutan pengiriman barang ke Semarang. Kami ingin menghidupkan kembali, sehingga komoditas-komoditas yang sebelumnya lewat Semarang (Pelabuhan Tanjung Mas), bisa dialihkan ke Tegal, ujarnya. 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau