Bhimasena Kerjakan Proyek PLTU 2.000 MW Jateng

Kompas.com - 06/10/2011, 20:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau PLTU berkapasitas 2 X 1.000 mega watt (MW) akan dikerjakan oleh PT Bhimasena Power Indonesia atau BPI. Proyek senilai 4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 35,2 triliun ini akan dikerjakan tahun ini dan diperkirakan akan siap digunakan pada 2016.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan hal tersebut di Jakarta, Kamis (6/10/2011) usai menghadiri penandatanganan lima dokumen terkait pembangunan proyek PLTU 2x1.000 MW itu.

BPI tidak lain merupakan perusahaan yang dibentuk oleh tiga perusahaan lain, yang sebelumnya telah membentuk konsorsium yang memenangkan tender pembangunan proyek PLTU 2x1.000 MW di Jawa Tengah ini. Ketiga perusahaan yang membentuk konsorsium tersebut adalah Electric Power Development Co Ltd (J-Power) asal Tokyo, lalu PT Adaro Power (anak usaha Adaro Energy Tbk) asal Indonesia, dan Itochu Corporation asal Tokyo, Jepang.

Saat ini, BPI dipimpin oleh seorang presiden bernama Kenichi Seshimo. Selain menjadi pelaksana pembangunan proyek PLTU tersebut, BPI juga menandatangani perjanjian pemasokan listrik selama 25 tahun kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Dengan demikian, BPI yang dibentuk pada Juli 2011 ini akan membangun (build), memiliki (own), dan mengoperasikan (operate) pembangkit listrik berbahan baku batu bara berkalori rendah ini. Dengan kapasita 2.000 MW tersebut, PLTU yang berbasis di Kabupaten Batang, Jawa Tengah ini akan menjadi yang terbesar di Asia.

Hatta mengatakan, PLTU Jawa Tengah ini merupakan proyek pajangan pemerintah yang akan ditunjukan kepada calon-calon investor lain agar ikut membangun proyek infrastruktur dengan mekanisme Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS). Proyek ini merupakan proyek KPS pertama yang dilaksanakan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 67 tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.

"Pada tahun 2006, pemerintah telah menetapkan proyek PLTU Jawa Tengah ini sebagai salah satu model proyek KPS," ujarnya. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau