Masyarakat Harus Berkoalisi Melawan Korupsi

Kompas.com - 06/10/2011, 20:32 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Korupsi yang menyentuh berbagai ranah baik politik, legislatif, eksekutif, maupun swasta dan keempatnya membentuk kesatuan semakin menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia semakin parah. Namun keadaan ini bukan tanpa harapan. Masyarakat harus berkoalisi untuk melawan korupsi.

Ketua Dewan Pengurus Tranparency International Indonesia (TII) Natalia Soebagjo saat Talk Show Bung Hatta Anti Corruption Award di Medan di Medan, Kamis (6/10/2011) mengatakan korupsi di Indonesia masih parah. Ini ditunjukkan dengan dengan angka indeks korupsi di Indonesia di angka 2,8 di tahun 2009 dan 2010. Ada perbaikan, namun perkembangannya tidak signifikan dengan pemberantasan korupsi, kata Natalia. Posisi Indonesia masih di bawah Thailand.

Meskipun demikian, selalu ada harapan perbaikan. Salah satunya adalah masyarakat semakin terbuka berbicara soal korupsi. Di beberapa negara bicara korupsi masih sangat hati-hati, tutur Natalia tanpa menyebutkan negaranya.

Maka rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di negara perlu menggunakan kekuatannya untuk menekan angka korupsi. Langkah taktis yang diambil adalah berkoa lisi dan menentukan sasaran yang mau dicapai.

Pimpinan KPK periode 2003-2007 yang juga penerima Bung Hatta Anti Corruption Award Amien Sunaryadi mengatakan saat ini lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih merupakan lembaga terpercaya dalam pember antasan korupsi. Namun langkah pemberantasan korupsi sangat tergantung pada pemumpin KPK. Saya melihat KPK masih bisa diandalkan. Namun KPK tergantung pada lima leadernya, kata Amien.

Amien mengatakan masyarakat bisa ambil bagian dalam menentukan siapa pemimpin KPK melalui wakilnya di DPR RI. Hubungi wakil Anda di DPR RI dan katakan siapa pemimpin KPK yang menurut Anda baik. Jika perlu katakan tidak akan memilih wakil Anda lagi di DPR jika tidak menyuarakan aspirasi warganya, tutur Amien.

Wali Kota Solo Joko Widodo, penerima Bung Hatta Anti Corruption Award tahun 2010 mengatakan pemimpin sangat berpengaruh dalam melakukan perubahan khususnya pemberantasan korupsi. Selain itu sistem politik harus dibenahi.

Saat ini politik bisa masuk ke ranah hukum hingga ekonomi. Sistem rekruitmen politik perlu diubah. Untuk mendapatkan pemimpin yang baik proses rekruitmen dimulai dari daerah, kata Joko Widodo. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau