BANDA ACEH, KOMPAS.com — KIP Aceh akan melangkah pada tahap pemeriksaan kesehatan para kandidat kepala daerah, Sabtu (8/10/2011), setelah berakhirnya masa pendaftaran kandidat, Jumat malam ini.
Dalam tahapan ini, KIP Aceh bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh guna memeriksa seluruh kesehatan para kandidat kepala daerah, baik di tingkat kabupaten dan kota maupun tingkat provinsi.
Pemeriksaan dipusatkan di RSU Zainoe l Abidin, Banda Aceh, di bawah koordinasi Ketua IDI Aceh Fachrul Jamal.
Fachrul menjelaskan, semua tahapan pemeriksaan kesehatan akan mereka lakukan. Untuk semua proses ini, Aceh akan mengerahkan sekitar 50 dokter ahli ditambah lagi sejumlah perawat dan tenaga medis lainnya.
"Kami akan memeriksa kesehatan fisik dan juga kesehatan psikologis para kandidat itu," kata Fachrul Jamal.
"Pemeriksaan fisik akan dilakukan mulai dari ujung kaki hingga kepala. Bagian tubuh para kandidat itu akan diperiksa, mulai dari telinga-hidung-tenggorokan (THT), jantung, kaki, hingga seluruh bagian tubuh lainnya. Tidak ada yang luput dari pemeriksaan kami," ujarnya.
Masing-masing bagian tubuh akan diperiksa oleh dokter ahli di bidangnya. Untuk jantung, misalnya, akan diperiksa oleh ahli jantung, demikian juga dengan ginjal dan paru-paru. Proses pemeriksaan kesehatan para kandidat hanya berlangsung pada Sabtu dan Minggu, dimulai pekan depan.
"Sengaja kami pilih hari Sabtu dan Minggu agar tidak mengganggu tugas para dokter dalam menangani pasien di rumah sakit," katanya.
Dalam pilkada ini, IDI diperkirakan akan memeriksa 298 kandidat, baik calon gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, maupun wali kota dan wakil wali kota. Mereka adalah para kandidat yang akan bertarung dalam pemungutan suara pada 24 Desember 2011.
Untuk pemeriksaan kesehatan itu, IDI membutuhkan waktu dua pekan berturut-turut. Pemeriksaan berlangsung dalam gelombang hingga selesai pada 23 Oktober.
Dalam satu hari tim IDI akan memeriksa 50 sampai 60 orang. Rata-rata untuk seorang kandidat membutuhkan waktu pemeriksaan sekitar tiga jam. Selama pemeriksaan berlangsung, tidak seorang pun yang diperkenankan mendampingi kandidat.
"Semua ditangani oleh tim dokter yang dikoordinasi IDI," kata Fachrul. Bahkan, untuk makan dan minum pun tidak bisa dari luar. Semuanya disediakan di tempat pemeriksaan.
"Setelah pemeriksaan fisik, nantinya dilanjutkan dengan pemeriksaan psikologi. Mereka akan kami tes dengan beberapa pertanyaan tertulis yang tujuannya untuk mengetahui mental dan emosi mereka," kata Fachrul.
Sistem pemeriksaan kesehatan yang dilakukan IDI Aceh ini lebih ketat dibandingkan dengan pilkada di Aceh sebelumnya.
"Sistem ini kami adopsi dari sistem pemeriksaan presiden pada Pemilu 2009," kata Jamal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang