Sejumlah indikator, seperti likuiditas perbankan dan rasio kecukupan modal, cukup terjaga. Pertumbuhan kredit masih baik.
”Jika krisis, terjadi kekeringan likuiditas. Dari stress test, tidak terlihat indikasi itu,” kata Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah di Jakarta, Jumat (7/10).
Kepala Biro Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Irwan Lubis dalam kesempatan terpisah menyampaikan, jika memperoleh tekanan, perbankan di Indonesia masih tak akan menemui masalah. Penyebabnya antara lain struktur modal yang bagus, yakni berupa modal disetor dan laba ditahan.
Pengamatan yang dilakukan BI bukan hanya likuiditas industri perbankan, melainkan juga bank per bank. Sejauh ini, secondary reserve atau dana cadangan sekunder perbankan memadai. ”Kalau ada tekanan likuiditas, sejauh mana dana cadangannya,” kata Irwan.
Dana cadangan sekunder sebesar 2,5 persen dana pihak ketiga perbankan, dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Negara (SBN), atau simpanan giro di BI. Per Juli 2011, dana bank umum pada SBI sebesar Rp 114,578 triliun.
Aturan BI mengenai dana cadangan sekunder itu diterbitkan sejak tahun 2008. ”Secondary reserve ini sekaligus cara BI menyiapkan bank menghadapi krisis,” tutur Difi.
Dari sisi kredit, jumlah undisbursed loan atau kredit yang belum ditarik masih tinggi. Hal ini menunjukkan tingginya komitmen kredit perbankan.
Per Juli 2011, kredit bank umum yang belum ditarik mencapai Rp 623,272 triliun. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan Desember 2010 yang sebesar Rp 554,709 triliun.
Menyikapi kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu, PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk akan meneliti ulang manajemen protokol krisis. Sebagaimana dikemukakan Direktur Utama BNI Gatot Suwondo, kajian ulang itu mempertimbangkan situasi terburuk.
Meski demikian, BNI tetap optimistis karena pasar Indonesia yang memiliki 238 juta penduduk sangat besar. Hal ini terkait perekonomian Indonesia yang ditunjang konsumsi domestik.
Optimisme juga ditunjukkan PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. Sekretaris Perusahaan BRI Muhamad Ali menyebutkan, suku bunga yang stabil menguntungkan pertumbuhan industri. Peluang mengucurkan kredit masih besar.