BI Uji Ketahanan Perbankan

Kompas.com - 08/10/2011, 04:46 WIB

Jakarta, Kompas - Mengantisipasi pengaruh krisis ekonomi, Bank Indonesia sudah melakukan stress test atau uji ketahanan terhadap industri perbankan di Indonesia. Dari uji tersebut, disimpulkan bahwa kondisi perbankan saat ini masih sangat baik.

Sejumlah indikator, seperti likuiditas perbankan dan rasio kecukupan modal, cukup terjaga. Pertumbuhan kredit masih baik.

”Jika krisis, terjadi kekeringan likuiditas. Dari stress test, tidak terlihat indikasi itu,” kata Kepala Biro Humas BI Difi A Johansyah di Jakarta, Jumat (7/10).

Kepala Biro Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Irwan Lubis dalam kesempatan terpisah menyampaikan, jika memperoleh tekanan, perbankan di Indonesia masih tak akan menemui masalah. Penyebabnya antara lain struktur modal yang bagus, yakni berupa modal disetor dan laba ditahan.

Pengamatan yang dilakukan BI bukan hanya likuiditas industri perbankan, melainkan juga bank per bank. Sejauh ini, secondary reserve atau dana cadangan sekunder perbankan memadai. ”Kalau ada tekanan likuiditas, sejauh mana dana cadangannya,” kata Irwan.

Dana cadangan sekunder sebesar 2,5 persen dana pihak ketiga perbankan, dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Negara (SBN), atau simpanan giro di BI. Per Juli 2011, dana bank umum pada SBI sebesar Rp 114,578 triliun.

Aturan BI mengenai dana cadangan sekunder itu diterbitkan sejak tahun 2008. ”Secondary reserve ini sekaligus cara BI menyiapkan bank menghadapi krisis,” tutur Difi.

Dari sisi kredit, jumlah undisbursed loan atau kredit yang belum ditarik masih tinggi. Hal ini menunjukkan tingginya komitmen kredit perbankan.

Per Juli 2011, kredit bank umum yang belum ditarik mencapai Rp 623,272 triliun. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan Desember 2010 yang sebesar Rp 554,709 triliun.

Menyikapi kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu, PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk akan meneliti ulang manajemen protokol krisis. Sebagaimana dikemukakan Direktur Utama BNI Gatot Suwondo, kajian ulang itu mempertimbangkan situasi terburuk.

Meski demikian, BNI tetap optimistis karena pasar Indonesia yang memiliki 238 juta penduduk sangat besar. Hal ini terkait perekonomian Indonesia yang ditunjang konsumsi domestik.

Optimisme juga ditunjukkan PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. Sekretaris Perusahaan BRI Muhamad Ali menyebutkan, suku bunga yang stabil menguntungkan pertumbuhan industri. Peluang mengucurkan kredit masih besar. (idr)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau