RS Dharmais Akan Deteksi Dini Kanker

Kompas.com - 08/10/2011, 06:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rumah Sakit Kanker Dharmais yang menjadi Pusat Kanker Nasional, November 2011, menerapkan teknik diagnostik Positron Emission Tomography-Computerized Tomography. Lewat teknologi pencitraan baru ini, kanker dapat dideteksi sedini mungkin. Metode hibrid yang memadukan dua sistem tersebut memperbesar peluang kesembuhan.

Menurut Direktur RS Kanker Dharmais Sonny Panigoro, layanan medis ini dapat meningkatkan lebih dari 30 persen kesembuhan pasien dibanding teknik saat ini. "Dengan memadukan kedua teknik deteksi itu, diagnostik kanker jauh lebih baik. Sel kanker berukuran kurang dari 5 milimeter terindentifikasi," kata Kardinah, ahli radiologi dari RS Kanker Dharmais, Jumat (7/10/2011).

Tingginya kematian penderita kanker di negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi perhatian Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional Yakiya Amano, seperti disampaikan di RS Kanker Dharmais/Pusat Kanker Nasional, Jumat.

Selain kasus kanker, menurut A Husein S Kartamihardja, Koordinator Proyek Nasional PET Scan, sistem hibrid ini juga membantu untuk menetapkan tindakan lanjut bagi pasien serangan jantung. Teknik pencitraan tersebut dapat membedakan kondisi infark pada pembuluh jantung, yaitu dalam kondisi hibernasi atau telah mati. Hal itu menentukan penanganan yang diperlukan lebih lanjut. (YUN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau