Tambak dipasena

Petambak Plasma Tuntut Transparansi Penyaluran Bantuan

Kompas.com - 08/10/2011, 16:17 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Petambak plasma PT Aruna Wijaya Sakti (eks Dipasena) menuntut transparansi proses penyaluran bantuan benur dan sarana produksi yang sedianya dilakukan pemerintah terkait upaya penanganan krisis di tambak udang terbesar se-Asia Tenggara itu.

Towilun, perwakilan petambak Bumi Dipasena Sentosa, Sabtu (8/10) mengatakan, secara umum para petambak kini siap menjalankan kesepakatan mediasi yang telah dihasilkan 5 Agustus lalu di Lampung.

Salah satu butir kesepakatan antara petambak dan pemerintah ini adalah pemberian bantuan benur senilai Rp 1,5 miliar.

"Kesiapan petambak Bumi Dipasena untuk kembali berbudidaya ini harus dijadikan momentum bagi pemerintah untuk bersungguh-sungguh memperbaiki kesejahteraan petambak.Untuk itu, diperlukan keseriusan dan transparansi tim pemerintah (Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemprov Lampung, dan Pemkab Tulang Bawang) dalam penyaluran bantuan benur kepada petambak Bumi Dipasena agar tidak terjadi kebocoran dalam pemakaian anggaran," ungkapnya.

Petambak plasma PT AWS juga telah melakukan verifikasi dan pendataan tambak-tambak yang siap dibudidayakan secara mandiri. Verifikasi ini menjadi bagian dari persyaratan penyaluran benur seperti yang telah diminta Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau