Bedah buku busyro muqoddas

Teori Joko Tingkir ala Intelijen Indonesia

Kompas.com - 09/10/2011, 19:11 WIB

MALANG, KOMPAS.com- Intelejen Indonesia, paling tidak di masa Orde Baru, menggunakan teknik pemecah belahan masyarakat untuk menciptakan situasi sosial yang rapuh agar kekuasaan rezim, dalam hal ini Soeharto, bisa dipertahankan. Caranya, menggunakan teknik Joko Tingkir, legenda sejarah seorang tokoh yang menyumpal telinga kerbau, hingga kerbau mengamuk. Seolah-olah hanya dia yang bisa menjinakkan kerbau yang mengacau, padahal pelaku kekacauan itu tak lain buatannya sendiri.

Melaui teknik ini, sejarah bisa merekam sejumlah operasi intelejen Orde Baru seperti operasi penumpasan Komando Jihad yang menciptakan karakter Imron.

Hal itu yang antara lain muncul pada diskusi bedah buku hasil disertasi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas, berjudul Hegemoni Rezim Intelijen di kampus Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang (UM), Minggu (9/10/2011).

Busyro antara lain mengungkapkan ketidakyakinannya bahwa karakter ciptaan intelijen Orde Baru seorang petinggi Komando Jihad telah tewas, dalam operasi itu. Imron sejak semula dikenal tinggal di Arab Saudi, dan waktu itu ada info yang mengatakan Imron masih hidup di sana.

"Bahkan saat Ali Murtopo berada di Arab, Imron ada diantara orang Indonesia yang hadir dalam pertemuan itu, yang artinya dekat dengan petinggi intelijen," katanya.

Teori Joko Tingkir didukung oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang Prof Dr Haryono yang juga pakar ilmu sejarah. Model operasi intelijen Joko Tingkir ini yang kemudian sukses menciptakan ketegangan antara sesuatu yang diistilahkan ekstrim kiri dan ekstrim kanan ciptaan Orde Baru pada awal 1980-an, yang menunjukkan seolah-olah ada ancaman orang-orang kiri terhadap orang-orang kanan dan sebaliknya.  

"Inilah hantu-hantu yang diciptakan, yang disebut hantu jihad dan hantu komunis. Padahal yang sebenarnya terjadi, melalui ketegangan itu kemudian intelijen bisa mengetahui siapa yang berideologi yang mana, sehingga kedua-duanya ditumpas, bukan untuk kepentingan negara. Melainkan untuk kepentingan kelanggengan kekuasaan Orde Baru," katanya.

Kedua hantu ini menjadi sumber ketakutan, dan menutupi hantu sebenarnya, seperti diungkap John Perkins," kata Haryono, dalam buku Confessions of Economic Hitman yakni pengurasan sumber daya ekonomi pertambangan dan perkayuan oleh kekuatan asing. Operasi intelijen mengabdi pada hedonisme penguasa, menciptakan ketakutan yang membuat operasi pertambangan asing seperti Freeport atau Newmont bisa leluasa berkuasa di tengah kemiskinan rakyat di sekitar situs pertambangan.  

Menurut Busyro, ada informasi yang menyebut sebelum ini ABB dikenal dekat dengan para petinggi intelijen. Demikian pula hubungan antara petinggi Negara Islam Indonesia (NII) di Jawa Barat yang justru berhubungan dekat dengan mantan petinggi lembaga intelijen.  

"Meski dengan pemandangan demikian gamblang, namun kita lihat sendiri tak ada tindakan hukum terhadap NII dan orang-orangnya yang sudah terungkap luas, sampai hari ini. Jangan heran bahkan seorang Panglima Kodam, pernah bicara dengan saya usai wisuda anaknya bahwa ia berterima kasih pada saya karena setelah kuliah di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, anaknya itu yang terpengaruh NII bisa kembali ada orang tuanya. Lho ini seorang Pangdam saja tak berdaya mengahadapi NII," kata Busyro.

Melalui itu, Busyro menegaskan, para aktivis dan masyarakat luas hendaknya berusaha terus mengkritisi tiga RUU yang sedang diupayakan untuk segera disahkan, yakni RUU Intelijen, RUU Rahasia Negara dan RUU Pertahanan, yang dapat mengancam demokrasi. "Mari kita kembalikan intelijen bukan sebagai milik kekuasaan, melainkan milik negara dan milik rakyat. Intelijen bekerja untuk menjaga kepentingan negara, bukan kepentingan rezim berkuasa," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau