Perbincangan di kereta api

Orang Tidak Suka SBY, Saya Kena...

Kompas.com - 11/10/2011, 02:01 WIB

Dalam perjalanan dengan kereta api dari Jakarta ke Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (3/10), percakapan Kompas dengan Ny Kristiani Herrawati atau akrab disapa Ny Ani Yudhoyono membahas banyak hal. Selain soal batik dan hobi memotret, juga soal ribuan SMS dan Sungai Ciliwung, seperti percakapan ini:

Pada awal tahun 1962 , ketika masih remaja dan tinggal bersama orangtua (keluarga Sarwo Edhie dan Ny Sunarti bersama putra-putrinya, yakni Wijiasih Cahyasasi, Wrahasti Cenderawasih, Mastuti Rahayu, dan Pramono Edhie Wibowo) di kompleks Resimen Para Komando Angkatan Darat Cijantung, Jakarta, Ibu sering berenang di Ciliwung?

Sebelum saya bicara soal berenang di Ciliwung, saya mau mengatakan, kadang-kadang kalau melihat saya, banyak yang bilang Ibu Ani itu enak kehidupannya mulus-mulus saja karena anak seorang jenderal. Padahal, kami juga mengalami jadi anak seorang letnan. Ayah saya jadi jenderal, kan, setelah dinas di militer sekian puluh tahun.

Bagaimana suasana mandi di sungai itu?

Ketika itu kami sekeluarga tinggal di Cijantung, tidak jauh dari Sungai Ciliwung. Sampai sekarang, ibu saya tinggal di Cijantung. Air Sungai Ciliwung masih jernih dan bersih, masih kelihatan batu yang ada di dasar sungai. Kami, kakak dan adik saya bersama anak-anak tetangga, beramai-ramai ke Sungai Ciliwung. Waktu itu air masih sulit sehingga kalau pulang, mesti bawa air untuk mandi di rumah dan keperluan yang lain.

Ini bisa untuk kampanye lingkungan bersih?

Sekarang saya heran sekali. Begitu melihat Ciliwung, aduuuh, kotornya bukan main. Keruh sekali. Mana batu-batu yang bisa saya lihat. Dulu di sungai itu ada getek. Tahu, ya, getek? Itu bambu yang diikat-ikat dan jadi kendaraan lewat sungai. Saya suka ikut. Bang, boleh ikut? Namanya anak-anak kolong.

Soal SMS

Sekarang Ibu sering terima pesan singkat (SMS) dari masyarakat?

Suatu saat saya pernah diwawancara TVRI dalam rangka Hari Kartini. Saya ditanya nomor telepon genggam saya dan saya berikan. Nomor itu diumumkan. Ribuan SMS masuk. Saya terkejut. Tidak menyangka seperti itu. Banyak masalah yang disampaikan kepada saya, dari hal pribadi, ada yang ingin jadi pegawai negeri sipil, minta kursi roda, soal rumah tangga, hingga macam-macamlah.

SMS itu diapakan?

Kadang-kadang saya tanyakan kepada Bapak Presiden, pesan-pesan tersebut. Saya laporkan kepada beliau dan saya tanya bagaimana meresponsnya. Bapak Presiden biasanya mengatakan agar hal-hal tersebut disampaikan kepada yang berwenang, misalnya polisi. Namun, tentu yang saya sampaikan itu sebatas sebagai informasi, sebagai bahan yang saya forward atau teruskan untuk dicek. Saya sampaikan informasi itu sebatas informasi, bukan perintah atau instruksi. Bisa saja informasi itu tidak benar. Maka, jangan saya yang disalahkan.

Ada informasi yang benar?

Suatu saat memang ada yang benar. Misalnya, suatu hari saya terima SMS mengenai ada penyekapan di sebuah rumah makan. Lalu saya teruskan ke polisi, kemudian dicek. Ternyata informasi itu benar.

Ibu tidak terganggu dengan banyaknya SMS?

Kalau kebetulan saya ada acara atau sibuk, saya tunda dulu. Kadang-kadang saya juga langsung membalasnya bila tampak penting.

Ada yang tidak mengenakkan?

Memang ada yang mengganggu. Maka, saya abaikan. Ada yang memaki-maki atau mengatakan yang tidak benar. Bila ada hal yang tidak sepantasnya mereka lakukan kepada saya, saya jawab, saya memberikan nomor HP saya bukan untuk itu, bukan untuk memaki-maki saya. Bila ada yang saya bisa bantu, saya bantu. Bila tidak bisa, saya sampaikan kepada yang berwenang atau terkait. Misalnya, kalau ada yang memerlukan kursi roda, saya beri ketika dicek ternyata memang yang bersangkutan membutuhkannya dan tidak mampu membelinya.

Jadi, ada yang menyedihkan dan menggembirakan?

Begitulah, saya sering sedih juga kok kemudahan yang saya berikan disalahgunakan. Mereka memaki-maki saya. Mungkin tidak suka kepada Pak SBY, yang kena saya. Namun, yang menghibur dan lucu-lucu juga banyak. Misalnya, ada seorang ibu mengirim SMS mengaku istri tentara. Ia minta suaminya dikirim ke daerah konflik. Saya tanya, lho, ibu, biasanya istri selalu berada di samping suami. Ternyata setelah diteliti, suami istri itu berkelahi. Sang istri merasa diperlakukan tidak sepantasnya. Saya teliti dan kemudian Pak SBY minta tolong ajudannya menghubungi mereka dan akhirnya bisa didamaikan.

 (J OSDAR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau