Halau Difteri dengan Imunisasi

Kompas.com - 11/10/2011, 09:31 WIB

KOMPAS.com - Infeksi sampai saat ini masih jadi penyebab utama kematian anak usia di bawah lima tahun. Padahal, sebagian besar infeksi itu bisa dicegah dengan imunisasi, termasuk difteri yang saat ini mewabah di Jawa Timur.

Difteri, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphktheriae ini memang paling rentan menyerang bayi. " Bayi dapat terserang mulai umur 2 bulan, dan makin muda bayi terkena, makin berat gejalanya," kata dr.Hindra Irawan Satari, Sp.A MTropPaed dari Divisi Infeksi dan Pediatri Tropis, Dep Anak FKUI-RSCM.  

Penyakit difteri dapat dicegah dengan menyuntikkan vaksin DPT (vaksin gabungan melindungi terhadap penyakit Difteri, pertusis dan tetanus). "Efek perlindungan bisa mencapai 93 % bila jadwal vaksin diberikan sesuai petunjuk, yaitu diberikan 3 kali selang 1-2  bulan, dimulai umur 2 bulan," paparnya.

Vaksin DPT ini harus diulang pada waktu anak mencapai umur 18 bulan atau paling dekat selang 6 bulan dari vaksinasi ke-3 sewaktu bayi, dan harus di ulang lagi sewaktu anak mencapai umur 10 tahun.

"Apabila vaksin ini tidak lengkap diberikan, maka efek perlindungan yang dicapai tidak optimal," kata staf pengajar di FKUI ini.

Selain faktor kelengkapan jadwal, menurut Hindra kualitas vaksin juga ditentukan oleh penyimpanan vaksin mulai dari awal pabrik dan transportasi sampai ke tempat penyuntikan. "Selama itu vaksin ini harus terjaga suhu dan lingkungannya, vaksin ini tidak boleh beku, tidak boleh terkena langsung sinar matahari, dan syarat-syarat lainnya," paparnya.

Selain itu teknik penyuntikan juga mempunyai persyaratan tertentu yang harus dipenuhi agar efek perlindungannya terpenuhi. Ia menegaskan, peristiwa KLB difteri yang terjadi itu memberikan gambaran bahwa program imunisasi harus mendapat perhatian khusus, bukan vaksinnya.

"Kualitas program yang harus diperkuat, bagaimana peranan pemerintah untuk menjaga cakupan imunisasi sampai 95 % untuk anak Indonesia, maka KLB kecil kemungkinan akan terjadi," katanya.

Untuk mengetahui ada tidaknya jadwal imunisasi yang terlewat, bawa anak ke Pos Yandu, Puskesmas, RS atau dokter spesialis anak terdekat. "Tidak ada istilah terlambat imunisasi. Mulai dengan anak kita sendiri, bila setiap orang tua di Indonesia mempunya pikiran yang sama , maka cakupan imunisasi akan tercapai sehingga tidak ada anak atau orang yang akan menjadi sumber penularan penyakit ini," tutupnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau