Tak hanya waspada, tetapi juga harus siaga

Yang Patut Dipelajari dari Perampokan Belakangan

Kompas.com - 12/10/2011, 05:13 WIB

DEPOK, KOMPAS.com — Aksi perampokan terhadap nasabah bank tampaknya semakin marak. Dalam bulan September saja, tiga kasus terjadi di wilayah Jakarta Timur, termasuk yang dialami Agam Mantjur Alikazin, warga Jalan Kayu Putih Utara.

Uang sebesar Rp 150 juta yang baru diambil dari BCA Cabang Kelapa Gading, Jakarta Utara, dirampas perampok di tengah jalan. Korban yang ketika itu seorang diri tidak berani melawan karena pelaku menodongkan senjata api.

Peristiwa serupa juga terjadi di Duren Sawit ketika seorang karyawati berinisial RH mengalami perampasan uang sebesar Rp 1 juta. Modus yang digunakan pelaku adalah mengempeskan ban sehingga korban teperdaya oleh pelaku.

Menurut Kapolsek Duren Sawit Komisaris Titik Setyowati, pelaku mengambil tas milik korban yang berisi uang dan surat-surat penting. Untungnya korban tidak mendapat kekerasan.

"Diduga, pelaku lari ke arah Rawamangun karena tasnya ditemukan di daerah sana. Uangnya sudah hilang."

Sebelumnya perampokan terhadap nasabah juga terjadi di kawasan Pulogebang atas nama Hendrik Susanto (36) dengan kerugian senilai Rp 60 juta. Ia mengalami luka bacok di tangan kanannya setelah diserang oleh empat kawanan perampok.

Aksi perampokan nasabah bank tampaknya sering dilakukan oleh pelaku yang sama, tetapi hingga saat ini belum pernah tertangkap. Perampokan di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Juni lalu, misalnya, bukan kali pertama terjadi. Dalam semester pertama tahun 2011 sudah tiga kasus perampokan nasabah bank terjadi di wilayah tersebut.

"Pelakunya diduga sama dengan pelaku perampokan sebelumnya," kata Kasie Humas Polsektro Cakung Iptu Sutrisno. Ia menambahkan bahwa modusnya sama. Pelaku mengincar korbannya, kemudian memepet korban dengan motor. Pelaku juga menembakkan senjata ke udara untuk menakut-nakuti korbannya.

Perampokan pertama dalam enam bulan terakhir di kawasan Cakung dialami Sayadi (50), Januari lalu. Saat itu, dia bersama dua temannya mengendarai mobil dan baru saja mengambil uang Rp 100 juta dari BCA Rawamangun. Uang itu rencananya untuk membayar besi tua kepada salah satu industri di Cakung.

Sesampai di depan pabrik Jalan Rawa Udang, Cakung, Jakarta Timur, Sayadi langsung turun sambil membawa tas berisi uang. Tiba-tiba seorang lelaki menarik tasnya dengan paksa. Pelaku langsung menuju ke dua pengendara motor yang sudah menunggu. Sayadi yang coba mengejar dan merebut tas berisi duit disabet golok pelaku.

Dua rekan Sayadi pun turut membantu. Namun, mereka tidak berkutik setelah salah seorang pelaku mengeluarkan senjata api dan menembakkan pelurunya ke udara sebelum kabur.

Aksi perampokan juga terjadi pada April di Jalan Pulo Kambing di Kawasan Industri Pulo Gadung. Perampok juga menyasar seorang nasabah BCA, Lukmanul Hakim (30). Korban mengalami kerugian Rp 50 juta, dua ponsel, buku tabungan BCA, dan buku tabungan Bank Mandiri.

Korban yang merupakan warga Jalan Kalibata Tengah, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tersebut saat itu baru saja mengambil uang di BCA. Saat berada di Jalan Pulo Kambing, korban dipepet enam pelaku yang menggunakan tiga sepeda motor. Pelaku membacok tangan korban hingga korban terjatuh.

Tidak hanya itu, korban yang sudah bersimbah darah ditodong golok dan pistol. Pelaku lantas merebut tas korban berisi uang yang dibawanya. Sebelum kabur ke arah Jalan Pulo Lentut, salah satu pelaku melepaskan tembakan ke udara satu kali.

Perampokan terbaru di kawasan Cakung menimpa Sugiana (49) dan Wagianto (30) pada awal Juni. Korban dipepet enam pelaku yang mengendarai tiga motor. Korban yang membawa uang Rp 85 juta untuk membangun rumah tidak berdaya setelah ditodong golok dan pistol. Pelaku juga menembakkan pistolnya ke udara sebelum melarikan diri.

Menurut Sutrisno, pihaknya sudah menyiapkan pengamanan bagi nasabah di setiap bank di wilayah Cakung untuk melakukan pengawalan. Namun, banyak nasabah yang tidak mau menggunakan fasilitas pengamanan tersebut. "Padahal, gratis."

Dia berpendapat, pelaku dari ketiga perampokan itu merupakan jaringan yang sama. "Biasanya aksi tersebut terjadi di tempat yang sepi."

Menangkal perampokan

Perampokan nasabah bank tak hanya menelan korban harta, tetapi juga jiwa. Karena itu, ada beberapa kiat untuk mengatasi ulah perampok. Sugata dari Bangli, Bali, misalnya, menyarankan beberapa cara jitu, termasuk memakai jasa polisi, lewat mekanisme transfer, atau cek.

"Menarik uang dalam jumlah besar harus mengajak teman atau petugas. Beberapa teman jaga di luar untuk mengamankan, atau bank harus memiliki counter khusus, hanya kita yang tahu, setor atau tarik berapa," ujarnya.

Pegawai bank jangan dibolehkan membawa ponsel. "Ada indikasi kuat oknum pegawai bank bekerja sama dengan komplotan penjahat itu," ujarnya.

Nasabah lainnya, Dewa Putu Lasia, dari Madangan, Bali, berpendapat, mereka yang dirampok itu kurang hati-hati dengan membawa uang banyak dan enggan mencari pengamanan.

"Intinya semua harus superhati-hati. Untuk mencegah perampokan terhadap nasabah, pihak bank harus memberikan servis plus atau dari pihak nasabah sendiri minta pengamanan," kata Ireng, nasabah lainnya, sambil menambahkan bahwa jika terjadi hal-hal tidak diinginkan, usahakan mencari tempat perlindungan, misalnya masuk ke kantor polisi atau tempat-tempat umum.

Sementara itu, Arsana dari Tuban mengimbau polisi lebih ketat dalam mengeluarkan izin kepemilikan senjata api oleh warga sipil. "Sekarang sepertinya orang terlalu mudah untuk memiliki senjata."

Polres Metro Tangerang menerjunkan Tim Anti Bandit di titik rawan kejahatan dalam upaya mengantisipasi kejahatan jalanan, termasuk perampokan nasabah. Anggota yang selalu siaga di jalanan ini dilengkapi rompi antipeluru dan senjata laras panjang. Tim ini bergerak ke sejumlah lokasi rawan gangguan kamtibmas.

"Tim ini saya bentuk untuk mengantisipasi perampasan uang di jalan oleh penjahat bersenjata api," kata Kapolres Metro Tangerang Kombes Tavip Julianto sambil menambahkan, di wilayah hukum Polres Metro Tangerang tercatat sudah dua kali terjadi perampokan uang nasabah bank, yaitu di Jalan Ahmad Yani dan di Jalan Kali Pasir.

Pada peristiwa di Jalan Ahmad Yani, pelaku merampas uang bendahara pusat perbelanjaan Borobudur sebesar Rp 6 juta yang baru diambil dari Bank Mandiri. Dalam kejadian itu, seorang pelaku berhasil dibekuk satpam yang mengawal wanita bendahara itu, dan uang satu tas berhasil diselamatkan.

Perampokan kedua menimpa karyawati percetakan di Jatiuwung. Uang sebesar Rp 257 juta baru diambil dari BCA dirampok delapan pelaku bersenjata api di Jalan Kali Pasir. Pelakunya hingga kini belum berhasil ditangkap.

"Kami mengimbau kepada warga, jika mengambil uang dalam jumlah besar di bank, mintalah pengawalan polisi. Tidak dipungut biaya," ujar Kapolres.

Jika polisi siaga, perampokan bisa digagalkan seperti yang terjadi pada perampok yang gagal merampas uang nasabah BCA di Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, setelah terjadi tembak-menembak antara perampok dan aparat Polres Metro Jakarta Timur yang sedang berjaga-jaga.

Satu pelaku berhasil diringkus setelah terjadi kejar-kejaran di rumah penduduk. Namun, satu pelaku lagi yang membawa senjata api kabur menggunakan sepeda motor merah saat lalu lintas padat di jalan tersebut.

Perampokan terhadap nasabah bank sulit dilacak, dan pelakunya jarang tertangkap. Aksi ini malah makin marak dan pelaku kian berani beraksi di jalanan, bahkan saat siang bolong dan di tempat-tempat keramaian.

Jika saja nasabah bank lebih waspada dan menggunakan pengawalan polisi ketika membawa uang dari bank serta aparat (polisi) selalu siaga di titik-titik rawan tindak kejahatan, bisa jadi perampokan terhadap nasabah bisa diminimalkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau