JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri kembali melancarkan kritikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai lemah menanggapi pencaplokan wilayah Tanjung Datu dan Camar Bulan oleh Malaysia.
Presiden ke-V RI itu mengatakan Pemerintah tak memiliki harga diri. "Mbok ya punya harga diri. SBY pasti tidak berani bicara kepada Malaysia," kata Mega di Megawati Institute, Jakarta, Rabu (12/10/2011).
Lantas, apa tanggapan Istana Kepresidenan atas kritikan "rival" SBY ini? "Kalau ada berbagai persoalan, memang itulah dinamika bernegara. Pemimpin memang harus selalu siap mengelola dinamika tersebut. Tentang cara mengelolanya memang sangat tergantung Pemerintah dan pemimpinnya. Itulah makna demokrasi," kata Staf Khusus Presiden Bidang Informasi Publik dan Public Relations Heru Lelono kepada para wartawan.
"Kalau Ibu Megawati ingin memberikan kontribusi bagi pembangunan negeri ini, termasuk misalnya persoalan perbatasan ini, SBY pasti tangannya terbuka lebar," sambungnya.
Heru mengingatkan, keamanan dan kedaulatan Indonesia bukan hanya tanggung jawab Presiden saja, tetapi seluruh rakyat Indonesia, termasuk Megawati. "Jadi, mari kita saling bersatu, saling membantu, bukan berseteru," kata Heru.
Sementara itu, Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, terkait kisruh batas perbatasan di Kalimantan Barat, tak ada unsur kesengajaan dari pihak yang mengubah atau memindahkan batas negara.
Seperti diwartakan, Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin mengatakan wilayah Indonesia di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia berkurang sebesar 1.400 hektare di wilayah Camar Bulan, dan 80.000 meter persegi di Tanjung Batu.
Hasanuddin menegaskan, dirinya punya bukti akurat tentang pelanggaran batas dan penguasaan lahan oleh Malaysia di Kalimantan Barat itu. "Saya punya data akurat dari lapangan. Saya lama menjadi sekretaris militer dan mengetahui betul persoalan yang ada di lapangan," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang