Megawati Kritik, Pihak Istana Angkat Bicara

Kompas.com - 12/10/2011, 15:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri kembali melancarkan kritikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai lemah menanggapi pencaplokan wilayah Tanjung Datu dan Camar Bulan oleh Malaysia.

Presiden ke-V RI itu mengatakan Pemerintah tak memiliki harga diri. "Mbok ya punya harga diri. SBY pasti tidak berani bicara kepada Malaysia," kata Mega di Megawati Institute, Jakarta, Rabu (12/10/2011).

Lantas, apa tanggapan Istana Kepresidenan atas kritikan "rival" SBY ini? "Kalau ada berbagai persoalan, memang itulah dinamika bernegara. Pemimpin memang harus selalu siap mengelola dinamika tersebut. Tentang cara mengelolanya memang sangat tergantung Pemerintah dan pemimpinnya. Itulah makna demokrasi,"  kata Staf Khusus Presiden Bidang Informasi Publik dan Public Relations Heru Lelono kepada para wartawan.

"Kalau Ibu Megawati ingin memberikan kontribusi bagi pembangunan negeri ini, termasuk misalnya persoalan perbatasan ini, SBY pasti tangannya terbuka lebar," sambungnya.

Heru mengingatkan, keamanan dan kedaulatan Indonesia bukan hanya tanggung jawab Presiden saja, tetapi seluruh rakyat Indonesia, termasuk Megawati. "Jadi, mari kita saling bersatu, saling membantu, bukan berseteru," kata Heru.

Sementara itu, Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, terkait kisruh batas perbatasan di Kalimantan Barat, tak ada unsur kesengajaan dari pihak yang mengubah atau memindahkan batas negara.

Seperti diwartakan, Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin mengatakan wilayah Indonesia di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia berkurang sebesar 1.400 hektare di wilayah Camar Bulan, dan 80.000 meter persegi di Tanjung Batu.

Hasanuddin menegaskan, dirinya punya bukti akurat tentang pelanggaran batas dan penguasaan lahan oleh Malaysia di Kalimantan Barat itu. "Saya punya data akurat dari lapangan. Saya lama menjadi sekretaris militer dan mengetahui betul persoalan yang ada di lapangan," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau