PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Wakil Wali Kota Palangkaraya, Maryono, menilai pemisahan tempat penjualan bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan nonsubsidi tidak akan efektif untuk menyelesaikan persoalan panjangnya antrean pembeli premium dan solar.
Maryono di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (12/10/2011), mengatakan, sekitar empat bulan lalu, stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menjual BBM nonsubsidi. Namun, BBM tersebut tidak diminati.
"Tidak mungkin. Tak ada pembeli yang mau membeli BBM nonsubdisi. Di Jalan Imam Bonjol, Palangkaraya, juga dijual solar nonsubsidi. Kenyataannya, pompa dengan solar yang dijual sejak Juli 2011 itu sangat jarang disinggahi konsumen," ujarnya.
Krisis BBM sudah berkali-kali terjadi di Palangkaraya. Aktivitas masyarakat pun terganggu, karena harus antre membeli BBM selama berjam-jam.
"Tempat menjual BBM nonsubsidi sepi. Saya anggap penjualan BBM nonsubsidi tak akan efektif. Saya lebih setuju jika subsidi BBM dihapuskan saja," kata Maryono.
Sebaiknya, subsidi dicabut dan dialihkan dalam bentuk lain untuk menyejahterakan rakyat. Masyarakat yang kurang mampu didata, lalu diberi bantuan.
"Subsidi jangan disalurkan untuk BBM, tetapi disalurkan kepada masyarakat yang layak menerima agar lebih sejahtera," tutur Maryono.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang