Myanmar Bebaskan Tapol

Kompas.com - 13/10/2011, 02:24 WIB

YANGON, RABU - Pemerintah Myanmar, Rabu (12/10) di Yangon, membebaskan setidaknya 300 tahanan politik, di antaranya salah satu pembangkang utama. Jumlah tapol yang dibebaskan relatif sedikit dan masih ada sekitar 1.800 tapol yang tidak dilepas.

”Kita berharap jumlah yang dibebaskan akan terus bertambah, tetapi kita tetap menyatakan rasa bersyukur karena setiap tahanan itu amat berharga,” kata tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1991.

Suu Kyi sendiri baru dibebaskan tahun lalu setelah berada dalam status tahanan rumah selama 15 tahun.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton di Washington mengatakan, tindakan Myanmar itu menunjukkan sebuah sinyal reformasi walau masih terlalu dini untuk menyimpulkan keseriusan penuh Myanmar soal demokrasi.

AS, Eropa, dan Australia sudah menegaskan hanya akan mencabut sanksi ekonomi dan politik atas Myanmar jika semua tapol dibebaskan. Sanksi Barat telah melumpuhkan perekonomian Myanmar dan membuat negara ini lebih dekat ke China dan India secara ekonomi.

”Ini mengecewakan,” kata Benjamin Zawacki, aktivis dari Amnesty International yang berbasis di Bangkok dan khusus membidangi Myanmar. ”Kami berharap jumlah yang dibebaskan lebih banyak, dan sangat diharapkan pembebasan menyangkut jumlah tahanan yang lebih banyak mengingat langkah-langkah yang relatif cepat dilakukan Myanmar menuju reformasi.”

Myanmar memperlihatkan sinyal perbaikan menuju demokrasi dengan kelonggaran dalam sensor media, kesediaan mengajak Suu Kyi berdiskusi, dan niat Pemerintah Myanmar untuk berbaikan dengan para pemberontak dari sejumlah provinsi.

Langkah ini terlihat sejak Thein Sein, pensiunan jenderal, menjadi presiden pada tahun ini lewat pemilu pertama dalam lima dekade terakhir.

Benci kepada China

Para diplomat asing di Yangon memperkirakan makin banyak tahanan politik yang dibebaskan dalam beberapa bulan mendatang. Sebuah komisi hak asasi manusia telah menyampaikan petisi kepada Presiden lewat media agar para tahanan yang tidak berbahaya seara politik dibebaskan segera.

Namun, sejumlah kantor berita menyebutkan, salah satu alasan di balik pembebasan itu adalah keinginan Myanmar untuk melepas ketergantungan ekonomi dan politik kepada China. Myanmar dan China secara historis memiliki hubungan yang tidak menyenangkan.

Pemerintah Myanmar pekan lalu menghentikan sebuah proyek dam yang didanai China setelah dikeluhkan warga Myanmar sebagai sarana ketergantungan kelak kepada China.

Di sisi lain, Myanmar menginginkan investasi dan hubungan dagang dan investasi dengan dunia. Namun hal ini tidak bisa didapatkan karena embargo ekonomi.

Myanmar juga ingin mendapatkan kredibilitas dari komunitas internasional jika diberi kesempatan oleh ASEAN sebagai ketua ASEAN pada 2014. Namun, untuk itu Myanmar harus menunjukkan sikap lunak, termasuk dengan membebaskan para tapol.

”Karena itu, pembebasan ini merupakan bagian dari proses untuk diterima di dunia internasional sekaligus pencabutan sanksi dunia,” kata Bertil Lintner, pakar soal Myanmar, yang berbasis di Thailand.

Myanmar adalah negara kaya sumber daya alam, tetapi terjebak kemiskinan. Ini adalah buah dari minimnya investasi dan kegagalan kediktatoran Pemerintah Myanmar selama 50 tahun terakhir. Myanmar menginginkan diversifikasi sumber investasi.

”Kita melihat sebuah sinyal menyenangkan dari langkah ini ... kita akan membawa mereka kembali ke dunianya,” kata Hillary soal Myanmar, yang disebut sebagai negara paria.

(AP/AFP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau