Kota Palembang jadi sorotan karena sejumlah venue (arena) SEA Games XXVI/2011 masih terus dibangun dan belum rampung. Menjawab kekhawatiran akan kesiapan Palembang, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin menjelaskan kepada Redaksi Kompas di Jakarta, Rabu (12/10).
Dengan waktu 30 hari tersisa, bagaimana kemajuan pembangunannya? Sejak Palembang ditunjuk sebagai tuan rumah SEA Games lewat perpres pada Oktober 2010, kami bekerja. Jika dihitung, kami bekerja mempersiapkan SEA Games kurang dari setahun. Untuk menyulap rawa menjadi venue berstandar internasional, kami tidak punya pengalaman dan tidak punya dana. Maka, kami mengajak pihak ketiga dengan sistem BOT (build, operate and transfer), hibah, CSR (program tanggung jawab sosial perusahaan), serta investasi. Pasti juga ada dari APBN dan sebagian kecil dari APBD.
Pembangunan sarana fisik untuk menggelar SEA Games XXVI di Palembang memerlukan dana Rp 2,2 triliun. Sebanyak Rp 1,6 triliun di antaranya mengandalkan dana pihak ketiga. Sisanya dari APBN dan APBD Sumsel.
SEA Games adalah sasaran antara. Akan tetapi, kami harus bisa membuktikan bahwa kami mampu. Untuk SEA Games ini, 80 persen venue adalah bangunan baru yang memenuhi standar internasional. Sebagian fasilitas berada di satu lokasi. Kami sudah habis-habisan. Semua dipertaruhkan. Mohon dilihat semangat kami bahwa daerah juga bisa, tidak hanya di Jawa.
Apa saja hambatan dalam proses pembangunan?
Banyak hambatan yang harus kami atasi. Di Jakabaring, hujan terus-menerus. Kami perlu tanah 1,1 juta meter kubik untuk menimbun rawa dengan truk. Jalan jadi rusak dan rakyat protes. Saya turun malam-malam meminta pengertian warga. Tiang pancang pun tidak gampang ditanam. Di tanah rawa Jakabaring, tiang pertama yang dipancangkan langsung masuk begitu saja karena kedalaman tanahnya 42 meter baru ketemu tanah keras. Tiang pancang harus kami beli dari Jawa, dari Surabaya. Lalu, kami sempat kehabisan semen.
Pada Februari-Maret terjadi persoalan dalam angkutan feri. Sebagian kapal penyeberangan itu harus masuk dok perawatan. Akibatnya, terjadi penumpukan kendaraan menjelang pelabuhan penyeberangan Merak.
Kami mohon bantuan Menteri Perhubungan karena banyak truk yang terjebak kemacetan di Merak. Sumsel juga tidak punya banyak tenaga kerja, sebagian besar didatangkan dari luar Sumsel. Saat Idul Fitri, pekerja pulang kampung. Pembangunan pun terhenti 10-12 hari.
Masalah konstruksi selesai, musim kemarau datang. Kami membuat hujan buatan karena yang ditakutkan adalah asap kebakaran dari gambut. Satu minggu hujan buatan dilakukan, awannya habis. Saat baskom venue akuatik datang, 500 bautnya hilang. Itu baut presisi yang tidak bisa dibeli di Jakarta atau di Palembang.
Bagaimana dengan kasus korupsi wisma atlet di Jakabaring?
Yang paling merusak adalah pemberitaan habis-habisan soal kasus wisma atlet. Kasus itu diberitakan pagi, siang, dan malam, lalu terbentuk opini Gubernur Sumsel menerima 2,5 persen. SEA Games tercemar korupsi. Dampaknya, ada pihak ketiga yang menarik diri dan ada yang menunda. Bahkan, ada yang tidak bisa kami hubungi sampai sekarang. Pemberitaan itu juga mematahkan semangat 3.000 pekerja di Jakabaring. Bayangkan, bagaimana perasaan ribuan pekerja yang menerima upah harian mendengar proyek yang mereka kerjakan dikorupsi miliaran rupiah.
Mengapa beberapa ”venue” di Jakabaring, seperti panjat tebing dan sepatu roda, belum tuntas dibangun?
Dari tujuh venue seperti panjat tebing, sepatu roda, dan petanque, kami menerima dana yang bersumber dari APBN pada Mei 2011 dan setelah itu harus proses tender. Jadi, kami tidak terlambat, justru tujuh venue itu dikerjakan dengan luar biasa cepat. Kontraktor venue panjat tebing dan voli pantai tidak sanggup menyelesaikan, akhirnya kami ambil alih.
Apa yang menjadi problem saat ini?
Tidak ada. Dari awal, saya yakin ini selesai. Saya insinyur dan bekerja bersama insinyur-insinyur muda. Ada grafik kemajuan proyek yang dihitung. Kalau meleset 3 persen, itu biasa. Insya Allah tidak meleset dari jadwal. Kami bertanggung jawab untuk menyerahkan venue SEA Games tepat waktu. Kami membantu sepenuhnya apa yang kami bisa untuk menyelenggarakan SEA Games.
Alex menunjukkan foto bagian luar dan ruang dalam venue tinju bertanggal 11 Oktober. Dalam foto itu, interior dan bagian luar gedung yang menjadi venue tinju telah rampung.
Kemarin pagi (Selasa, 11/10/2011) saya baca Kompas yang memberitakan venue tinju belum siap, baru selesai 40 persen. Saya tanya kenapa belum jadi. Dan sorenya, dinding dan semua yang belum selesai di venue tinju bisa dirampungkan.
Orang yang paling takut venue tidak selesai adalah saya, baru yang lainnya. Apakah wajah saya kelihatan tidak optimistis? (Alex tertawa). Pokoknya, venue bisa selesai. (YNS/WAD)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang