Program aplikasi ponsel

Evaluasi dan Pemantauan Tumbuh Kembang

Kompas.com - 13/10/2011, 11:11 WIB

Kompas.com - Tahun pertama kehidupan bayi merupakan masa-masa terjadinya perubahan secara terus-menerus dan cepat. Namun, tidak semua bayi berkembang dengan kecepatan yang sama. Karena itu para orangtua dan tenaga kesehatan wajib melakukan evaluasi tumbuh kembang bayi.

"Setiap orangtua wajib menyaksikan dan mengenali semua perubahan, perkembangan, dan perilaku anak-anaknya, terutama sejak ia lahir sampai usia balita," kata dr.Soedjatmiko, Sp.A, di depan peserta Rapat Kerja Nasional V Ikatan Bidan Indonesia di Solo, Selasa (11/10).

Ia menjelaskan, di tahun pertama kehidupan seorang anak, ia akan mengalami perkembangan yang sangat pesat, dari yang tadinya sangat bergantung pada orangtuanya mulai mampu duduk, berjalan, bahkan mengucapkan beberapa patah kata.

"Walau perkembangan yang dicapai setiap bayi berbeda-beda, tetapi ada tonggak perkembangan bayi setiap bulan yang bisa dijadikan pedoman umum," papar dokter yang juga menjadi Ketua Divisi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial di Departemen Kesehatan Anak, FKUI-RSCM ini.

Untuk mendukung tumbuh kembang anak, orangtua perlu memenuhi kebutuhan fisik anak, yakni nutrisi yang lengkap dan seimbang, serta kebutuhan psikososial, yakni lingkungan yang baik dan emosional.

Salah satu upaya untuk membantu para bidan, yang menjadi garda depan perawatan kesehatan anak, PT.Frisian Flag Indonesia, menggandeng Tim Gatotkaca yang telah mendesain program komputasi di telepon genggam untuk mendeteksi tumbuh kembang balita.

Dalam program yang dinamai Childhood application itu, Dody Qory Utama dari Institut Teknologi Bandung dan timnya, di bawah bimbingan Dr.Tauhid Nur Azhar, mendesain program yang memiliki fitur-fitur seputar kesehatan anak, seperti jadwal vaksin, kalkulator penghitungan kebutuhan nutrisi anak, kamus menu makanan yang dilarang untuk dimakan balita, sampai mendeteksi tingkat dehidrasi anak, sampai program analisis gejala gangguan penyakit kuning.

Menurut Tauhid, data yang dimasukkan para bidan dalam aplikasi Childhood ini bahkan bisa disimpan sebagai data yang bisa dikumpulkan dan dipakai sebagai peta nasional sebaran kasus malnutrisi.

"Bagi para tenaga kesehatan, data-data itu bisa menjadi panduan daerah mana, bahkan anak mana dari desa apa yang perlu diintervensi," paparnya di Solo beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, aplikasi Childhood yang sudah memenangkan kompetisi Imagine Cup yang diadakan Microsoft di Amerika Serikat beberapa waktu lalu ini, saat ini sudah siap digunakan oleh para bidan atau bahkan dokter umum.

"Tinggal menunggu verivikasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia atau Departemen Kesehatan untuk validasi parameter pengukuran di aplikasi ini karena kami masih menggunakan panduan di buku," katanya.

Selain mudah dipakai (user friendly), aplikasi Childhood ini papar Tauhid bisa dipakai dalam berbagai merek ponsel. "Pada dasarnya ini adalah open source, sehingga kami ingin menggandeng koorporasi dalam program CSR mereka," imbuhnya.

Ia mengharapkan, kelak para bidan yang selama ini disibukkan dengan pengisian berbagai lembaran data bisa beralih ke digital. "Kelak, jika diperlukan data nasional yang akurat kita bisa tahu data yang sekarang," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau