Inilah Si Tersangka dalam Rencana Gagal Iran

Kompas.com - 13/10/2011, 14:36 WIB

BEKAS istri Manssor Arbabsiar mengatakan, mantan suaminya itu tidak terlibat dalam rencana pembunuhan terhadap Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat. Kepada CNN, Rabu (12/10/2011), Martha Guerro, bekas istri Arbabsiar, mengatakan, "Kami telah berpisah lama. Kami tidak punya hubungan lagi. Kasus ini akan membahayakan pekerjaan kami, kehidupan kami, para tetangga. Kami tidak menginginkan itu. Keluarga dan saya hanya ingin kedamaian. Kami tidak ada hubungannya dengan kasus ini."

Namun ia menambahkan, mantan suaminya tidak bersalah atas dakwaan yang diajukan itu. Ia mengatakan, "Saya memang tidak tinggal bersama dia, kami berpisah. Namun saya tidak bisa, demi kehidupan saya sendiri, berpikir bahwa ia mungkin bisa melakukan hal itu. Dia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Saya yakin tentang hal itu dan saya tahu bahwa ketidakbersalahannya akan segera ketahuan."

Manssor Arbabsiar dikenal sebagai 'Jack' di kalangan teman-temannya karena namanya terlalu sulit untuk diucapkan, kata David Tomscha, yang sempat buka dealer mobil bekas bersama Arbabsiar di kota Corpus Christi di Pantai Teluk Texas. Tomscha mengatakan, temannya itu menyenangkan, meski sedikit malas.

Kabar tentang rencana pengeboman restoran yang melibatkan Arbabsiar sangat mengejutkan Tomscha. Dalam konferensi pers yang dramatis, Selasa, Jaksa Agung AS, Eric Holder, mengungkapkan bagaimana unsur-unsur pemerintah Iran membiayai dan membantu rencana untuk membunuh Duta Besar Saudi, Adel al-Jubeir. Rencana tersebut melibatkan pembunuh bayaran dengan imbalan sebesar 1,5 juta dollar AS.

 Arbabsiar, warga AS berusia 56 tahun yang juga memegang paspor Iran, didakwa bersama Gholam Shakuri, yang menurut pihak berwenang seorang anggota inti Pasukan Quds dari rezim Iran.

"Dia pasti bukan dalang," kata Tomscha kepada The Associated Press. "Saya tidak bisa membayangkan dia memikirkan rencana seperti itu. Maksud saya, dia tidak tampak punya ambisi politik. Dia lebih sebagai seorang pengusaha." Tomscha, 60 tahun, mengatakan, kerja sama mereka pada 1990-an berakhir setelah berjalan sekitar enam bulan,  tetapi mereka tetap berteman.

Menurut Tomscha, Arbabsiar datang ke AS untuk memasuki apa yang kemudian dikenal sebagai Texas A & I University di Kingsville. Arbabsiar kemudian membuka usaha mobil bekas dengan sejumlah teman kuliah dan akhirnya memeliki sejumlah dealer di wilayah Corpus Christi. Tomscha mengatakan, dirinya terakhir melihat Arbabsiar musim gugur lalu. Pada awal 2011 ia mendengar temannya itu telah kembali ke Iran. Maka, Tomscha terkejut ketika Selasa lalu mendengar kabar tentang penangkapannya.

Setelah tinggal selama bertahun-tahun di Corpus Christi, Arbabsiar mengikuti istrinya ke daerah Austin, kata Tomscha. Daily Mail melaporkan, tak ada yang membukakan pintu rumah dua lantainya di lingkungan yang terawat baik di Round Rock, pinggiran Austin, Selasa, ketika diketuk. Menurut para pejabat federal, rumah itu terdaftar sebagai tempat tinggal Arbabsiar. Seorang pria terlihat masuk ke dalam rumah itu sore hari, kemudian ada pengiriman dari Pizza Hut.

Seorang tetangga mengatakan, dia sering melihat Arbabsiar berjalan di lingkungan itu setelah gelap. Ia punya kebiasaan merokok dan berbicara melalui ponsel dalam bahasa asing. "Istri saya dan saya selalu berpikir ada sesuatu yang aneh dengan pria itu," kata Eric Cano, 38 tahun, yang tinggal di sebelah rumahnya. "Tapi Anda tidak pernah berpikir, itu akan sampai ke level seperti ini."

Selasa, para pejabat penegak hukum mengungkap rincian persengkongkolan itu. Jaksa Agung Eric Holder mengatakan, rencana mematikan itu didalangi oleh pemerintah Iran untuk membunuh duta besar asing dengan menggunakan bahan peledak. "Melalui upaya terkoordinasi dari para penegakan hukum kita dan badan intelijen, kami mampu menggagalkan rencana tersebut sebelum ada korban. Kami akan terus menyelidiki masalah itu dan menyeret mereka yang telah melanggar hukum ke pengadilan," kata Holder.

Departemen Kehakiman mengatakan, dari musim semi 2011 hingga Oktober 2011, Arbabsiar dan anggota komplotannya yang berbasis di Iran, termasuk Shakuri dari Pasukan Qods, telah merencanakan pembunuhan terhadap duta besar Arab Saudi untuk AS. Arbabsiar dikatakan secara tak sadar menyewa informan Drug Enforcement Administration untuk melaksanakan rencana itu. Menurut pihak berwenang, dengan menyamar sebagai seorang anggota kartel narkoba Meksiko, informan itu bertemu Arbabsiar beberapa kali di Meksiko.

Arbabsiar dikatakan pertama kali bertemu agen yang menyamar itu di Meksiko pada 24 Mei 2011. Arbabsiar menanyakan pengetahuan agen itu tentang bahan peledak, sebelum menjelaskan bahwa ia ingin, antara lain, menyerang kedutaan besar Arab Saudi. Berdasarkan dakwaan, agen yang menyamar itu (CS-1) diduga menunjukkan bahwa ia punya pengetahuan dalam menggunakan bahan peledak C-4.

Selanjutnya, Arbabsiar dikatakan kembali ke Meksiko pada Juni dan Juli 2011 di mana dia mengadakan pertemuan lanjutan dengan CS-1. Dalam pertemuan pada 14 Juli 2011, di Meksiko, CS-1 diduga mengatakan kepada Arbabsiar bahwa dia butuh empat orang untuk melaksanakan pembunuhan terhadap duta besar itu dan bahwa tarif untuk melaksanakan pembunuhan itu sebesar 1,5 juta dollar AS.

Arbabsiar kemudian memberikan uang muka 100.000 dollar dan dalam pertemuan yang sama, dia membual ke CS-1 bahwa sepupunya di Iran - seorang 'jenderal besar" militer Iran - tahu tentang serangan itu.

Pada 17 Juli, CS-1 dan Arbabsiar bertemu lagi. Ketika itu CS-1 mengatakan, salah satu anak buahnya telah melaksanakan intaian terhadap si duta besar. Ketika CS-1 mengemukakan, kemungkinan akan terjadi korban massal, Arbabsiar mengatakan, "Mereka menginginkan pria (duta besar) itu dihabisi (dibunuh). Jika ratusan orang tewas, biarkan saja."

Pada 1 dan 9 Agustus 2011, dengan persetujuan Shakuri, Arbabsiar diduga telah melakukan dua kali transfer uang dari luar negeri senilai 'total 100.000 dollar' yang para pejabat katakan dikirim ke rekening seorang agen FBI yang menyamar.

Setelah CS-1 menuntut uang muka tambahan, Arbabsiar terbang ke Meksiko untuk bertindak sebagai jaminan bahwa uang akan dibayar. Setelah ditolak masuk ke Meksiko pada 28 September, ia kembali ke bandara JKF New York. Di sanalah ia ditangkap agen federal pada 29 September.

Dia, menurut para jaksa, mengatakan kepada para agen bahwa ia bertemu dengan CS-1 di Meksiko dan membahas pembunuhan duta besar itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau