Awas, Ranjau Paku di Jalan-jalan Utama Jakarta!

Kompas.com - 13/10/2011, 18:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bagi para pengendara sepeda motor sebaiknya meningkatkan kewaspadaan saat melintas di jalan-jalan utama di Jakarta dan Bekasi. Pasalnya, di beberapa titik jalan itu mulai rawan akan ranjau paku yang disebar oleh pihak yang berusaha merobek ban kendaraan untuk mencari keuntungan.

Kepala Bagian Pembinaan dan Operasional Ajun Komisaris Besar Lutfi Usman, mengatakan, Polda Metro Jaya kini mulai menyisir beberapa lokasi yang dianggap rawan ranjau paku. Titik-titik itu seperti di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan; Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat; Jalan Sultan Agung; serta dari Traffic Light Pondok Ungu sampai jembatan Banjir Kanal Timur, Cakung, Bekasi.

"Kami mulai meningkatkan penyisiran di wilayah-wilayah itu karena mulai menjadi keresahan masyarakat," ungkap Latif, Kamis (13/10/2011) di Mapolda Metro Jaya.

Penyisiran dilakukan dengan mengerahkan kendaraan golf yang dimodifikasi bagian depannya dengan dipasang papan magnet untuk menyisir jalan. Penyisiran dilakukan setiap pagi sekitar pukul 05.30 sebelum masyarakat berangkat beraktivitas. Hasilnya, bulan September Polres Metro Bekasi Kota berhasil mengamankan sekitar 4.304 paku yang sengaja disebar di Jalan Sultan Agung, Cakung, Bekasi.

"Kalau yang lain datanya belum masuk, tetapi peningkatan penyisiran ini sudah dilakukan sejak September," kata Latif.

Latif menduga, meski belum ada yang tertangkap tangan, para pelaku sengaja menyebar paku untuk melakukan tindak kejahatan jalanan seperti perampasan atau hanya untuk sekadar menarik keuntungan untuk bisnis tambal ban.

"Kami menduga mereka kerja sama dengan tukang tambal ban supaya mengeruk keuntungan. Tetapi, kejahatan jalanan lain seperti perampasan juga kami antisipasi," imbuhnya.

Para pelaku ini, kata Latif, juga biasa menyebar paku pada malam, sore, dan pagi hari. Untuk melancarkan aksinya, pelaku sengaja membengkokan paku sehingga bisa langsung menancap di ban saat sepeda motor melintas.

"Paku-paku itu juga sengaja disebar di jalur kiri karena motor-motor lebih banyak melintas di sana," papar Latif.

Sebelumnya, seorang pengendara sepeda motor, Ananda Badudu (23) mengalami nasib malang saat melintas di Jalan Gatot Subroto dari arah Slipi menuju Semanggi pada tanggal 26 September 2011 lalu. Ban belakang motornya tiba-tiba bocor di dekat gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada pukul 23.00.

"Sudah curiga itu karena paku, karena ban belakang langsung kempes cepat banget," tuturnya.

Nanda pun langsung menepi dan menemukan ada tiga pengendara lainnya yang mengalami nasib serupa tengah menambal ban. "Tapi karena tukang tambal bannya hanya pakai pompa tangan bukan pompa mesin jadi saya curiga jangan-jangan dia komplotan yang sebar paku," ujarnya.

Akhirnya, Nanda kemudian memaksakan memacu sepeda motornya hingga seberang gedung LIPI. Lagi-lagi, di sana ada sekitar 10 pengendara sepeda motor yang memarkirkan kendaraannya karena ban bocor. Sementara, sekitar lima tukang tambal ban tiba-tiba langsung mendulang rezeki.

"Ngobrol dari satpam di sana, katanya setiap malam memang ada orang yang pakai motor sebar-sebarin paku di jalanan. Saya sih berharap, kalau polisi bisa tangkap pelakunya supaya nggak jatuh korban lagi," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau