Jika Anak Mulai Sering Berbohong

Kompas.com - 14/10/2011, 09:18 WIB

KOMPAS.com - Memang mengerikan bila mengetahui ada anak kecil yang sudah pintar berbohong. Tetapi kadang tidak gampang mencari tahu siapa yang sedang berbohong, misalnya ketika anak tetangga bilang dia dicubit anak Anda, sedangkan anak Anda mengatakan tidak. Ketika anak sedang berbohong, entah maksudnya baik atau tidak, mereka selalu punya alasan di baliknya. Sebagai orangtua, tentu Anda harus segera mencari solusi sebelum bohong itu menjadi kebiasaan buruk yang sulit dihentikan.

Cari tahu apa penyebab kebohongannya
. Sebelum melakukan tindakan, Anda harus tahu mengapa anak sampai bisa berbohong. Apakah dia trauma terhadap situasi yang pernah terjadi? Adakah orang lain yang membuat anak takut untuk mengatakan yang sebenarnya? Apa dia hanya takut akan mendapat masalah? Terkadang, anak-anak memang berbohong karena seseorang telah mengancam mereka untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Tetapi yang paling sering terjadi sih, anak berbohong karena mereka tak ingin dimarahi akibat perbuatannya. Sedangkan penyebab lainnya, anak berbohong karena hal itu telah menjadi kebiasaannya.

Berbicaralah secara terbuka. Jika Anda terlalu keras pada anak, atau memberi hukuman karena anak telah berbohong, ia malah akan lebih sering melakukannya. Jika Anda dapat memahami persoalannya, dan bersikap tenang,  anak akan menjadi lebih nyaman untuk terbuka  nantinya. Memarahi anak hanya akan membuat apa yang Anda inginkan tidak terjadi.

Berikan contoh kejujuran. Tanpa sengaja Anda mungkin pernah mengajarkan anak untuk memberikan white lies, atau bohong demi kebaikan. Namun sekali Anda melakukannya, Anda akan memberi contoh bahwa berbohong itu bisa diterima jika menguntungkan situasi yang Anda hadapi. Lebih baik, tunjukkan pada anak bahwa kebenaran itu tetap lebih baik, meskipun seringkali menyakitkan. Bila anak melihat Anda selalu jujur dan melihat hasil dari kejujuran Anda, ia pun akan terdorong untuk melakukan hal yang sama. Di lain pihak, jika Anda selalu menceritakan hal-hal bohong padanya, atau menutupi sesuatu darinya, anak akan bertanya-tanya mengapa ia tak bisa melakukannya juga.

Tunjukkan efek dari kebohongan. Anda tidak bisa hanya menasihati anak tentang kejujuran, dan berharap mereka akan menurutinya. Jika anak tidak pernah melihat secara langsung efek buruk yang terjadi akibat berbohong (karena berbohong rasanya mudah sekali dilakukan), ia mungkin tidak terlalu mengerti akan situasi tersebut. Kalau anak telah berbohong, dan Anda mengetahui kebenarannya, bicarakan apa yang akan terjadi akibat kebohongannya. Misalnya, bahwa teman-temannya tak akan mau berteman lagi dengannya karena ia tidak bisa dipercaya. Ketika akhirnya ia betulan mengalami hal tersebut, jelaskan sekali lagi pada anak mengapa hal itu terjadi. Kadang-kadang, anak juga perlu merasakan sendiri apa akibat dari perbuatannya.

Beri hukuman. Hati-hati, hukuman yang terlalu berat untuk anak bisa menyebabkan ia berbohong lebih banyak untuk menghindari hukuman tersebut. Biarkan anak menghadapi sendiri konsekuensi dari kebohongan yang dilakukannya. Pastikan ia tahu bahwa itulah yang akan terjadi jika ia berbohong. Jelaskan bahwa anak yang terlalu sering berbohong tidak akan dipercayai lagi oleh teman-temannya. Bayangkan bila suatu ketika anak betul-betul butuh bantuan teman-temannya, namun teman-temannya tak ada lagi yang mau percaya padanya. Anak harus tahu bahwa hal b ini akan menjadi masalah ketika mereka benar-benar memerlukan bantuan orang lain.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau